Isu Duet Dedi Mulyadi-Gibran di Pilpres 2029, Pengamat Unpad Sebut Ada Pesan Politik

Pengamat Unpad Caroline Paskarina menilai rumor duet Dedi Mulyadi-Gibran untuk Pilpres 2029 dapat menjadi bagian dari dinamika politik dan pesan alternatif.

Isu Duet Dedi Mulyadi-Gibran di Pilpres 2029, Pengamat Unpad Sebut Ada Pesan Politik
Pengamat Unpad Caroline Paskarina menilai rumor duet Dedi Mulyadi-Gibran untuk Pilpres 2029 dapat menjadi bagian dari dinamika politik dan pesan alternatif. Foto web resmi Unpad

INILAHKORAN.ID - Rumor duet Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk Pilpres 2029 mulai menjadi bagian dari dinamika politik nasional.

Pengamat Politik Universitas Padjadjaran (Unpad)  Caroline Paskarina menilai, kemunculan nama Dedi Mulyadi sebagai kandidat potensial tidak terlepas dari meningkatnya popularitas serta penilaian publik terhadap kinerjanya.

"Ya, ini saya rasa pencalonan KDM dengan Gibran ini kan tidak lepas ya dari dinamika politik saat ini. KDM popularitasnya itu kan sedang naik ya dalam beberapa survei. Juga namanya menunjukkan kecenderungan positif," ujar Caroline saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Selasa (22/9/2026).

Namun, Caroline mengingatkan bahwa popularitas belum dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan pasangan calon pada Pilpres 2029. Konstelasi politik masih panjang dan hasil survei pun sangat mungkin berubah.

"Meskipun memang kalau berbicara mengaitkan pasangan, tentu tidak bisa semata-mata berdasarkan popularitas, begitu. Tetapi ini menggambarkan bahwa sudah mulai muncul nama-nama yang potensial begitu ya, untuk dicalonkan dalam Pilpres 2029 nanti," ucapnya.

Menurutnya, kemunculan nama-nama tersebut lebih menunjukkan adanya proses awal untuk membaca peta preferensi publik terhadap figur yang berpotensi masuk bursa Pilpres 2029.

"Nah, jadi ini sebenarnya baru pada upaya untuk apa, memunculkan ya, nama-nama yang populer berdasarkan popularitas dan juga penilaian publik terhadap kinerjanya, begitu," katanya.

duet Dedi-Gibran Bisa Jadi Kritik Halus

Caroline melihat ada konteks politik yang lebih luas di balik munculnya pasangan Dedi Mulyadi-Gibran. duet tersebut dapat dikaitkan dengan isu keberlanjutan pemerintahan saat ini, mengingat Gibran merupakan bagian dari pemerintahan nasional yang sedang berjalan.

"Ya. Mengapa dipasangkan ya dengan Gibran, ya ini mungkin juga tidak bisa lepas dari isu soal keberlanjutan pemerintahan sekarang," katanya.

Ia menjelaskan, kombinasi pasangan dalam kontestasi elektoral biasanya membawa representasi tertentu, baik dari sisi pemerintahan maupun basis politik.

Namun, apabila Dedi dan Gibran dipasangkan, keduanya sama-sama merepresentasikan kepemimpinan yang berasal dari Pulau Jawa. Dedi berasal dari Jawa Barat, sedangkan Gibran memiliki latar politik dari Jawa Tengah.

"Nah, cuma memang dari sisi representasi kewilayahan kan kalau ini dicalonkan dua-duanya mewakili apa, kepemimpinan yang berasal dari apa, dari Pulau Jawa lah begitu ya," ujarnya.

Di sisi lain, kemunculan duet tersebut juga dinilai dapat menjadi sinyal bahwa terdapat figur alternatif yang mulai diperkenalkan kepada publik.

"Nah, ini kan sebenarnya lebih pada menunjukkan bahwa sebenarnya ada loh figur lain, figur alternatif lain begitu yang bisa dimunculkan," sambungnya.

Caroline bahkan membuka kemungkinan rumor tersebut dibaca sebagai bentuk kritik terhadap jalannya pemerintahan saat ini.

"Jadi ini bisa jadi bentuk kritik juga ya terhadap kepemimpinan yang sekarang, gitu," ujarnya.

Terlebih, Dedi Mulyadi dan Presiden Prabowo Subianto berada dalam partai yang sama. Karena itu, menurut Caroline, kemunculan Dedi sebagai figur potensial dapat menjadi pesan bahwa partai memiliki kader lain yang memiliki tingkat popularitas tinggi.

"Apalagi partainya kan sama ya? Apa dua-duanya ya KDM dan Pak Prabowo dari partai yang sama. Jadi semacam kritik halus juga. Ini ada ada kadernya gitu ya, yang juga populer, gitu. Ya publik bisa bisa beralih loh kalau misalnya jalannya pemerintahan masih seperti ini," katanya.

Dedi-Gibran Bukan Satu-satunya Kemungkinan

Caroline menegaskan, peta kandidat Pilpres 2029 masih sangat cair. Selain Dedi Mulyadi dan Gibran, nama-nama lain berpotensi mencuat seiring perkembangan politik nasional.

Ia mencontohkan Pramono Anung yang mulai mendapatkan perhatian sebagai figur dengan pengalaman politik dan pemerintahan.

"Karena namanya popularitas, apalagi dalam arena kontestasi, ya bisa sangat mungkin ya. Kita kita kan bisa melihat nanti dinamika berikutnya ya dari dari dinamika yang muncul, apakah nanti ada juga nama figur Pramono Anung misalnya," ucapnya.

Pernyataan Dedi Dinilai Masih Fleksibel

Perbedaan pernyataan Dedi Mulyadi mengenai Pilpres 2029 juga dinilai tidak bisa langsung dimaknai sebagai perubahan sikap politik. Sebelumnya, Dedi menyatakan mendukung Prabowo. Namun, dalam pernyataan terbaru, ia memilih menyampaikan akan fokus menjalankan tugasnya di Jawa Barat.

Caroline menilai sikap tersebut wajar karena mekanisme pencalonan presiden tetap bergantung pada keputusan partai politik.

"Ya, karena memang situasinya masih belum pasti ya. Artinya tidak ya tidak mungkin lah akan langsung bilang, karena mekanisme pencalonan itu tetap melalui partai politik, begitu. Jangan sampai nanti juga menyatakan bersedia tapi tidak dicalonkan partai politik kan juga blunder ya," jelasnya.

Menurutnya, nama-nama yang saat ini mulai digadang-gadang masih belum memiliki kepastian posisi politik. Dukungan partai dan konfigurasi pemerintahan hingga 2029 masih dapat berubah.

"Saya rasa nama-nama yang sekarang digadang-gadang itu masih apa, belum bisa memastikan posisi. Karena dukungan dari partai politik juga belum jelas, kemudian periode pemerintahan juga saat ini kan masih di pertengahan ya. Jadi masih sangat mungkin lah terjadi perubahan situasi," tuturnya.

Ia menilai, pernyataan Dedi yang mendukung Prabowo juga dapat dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas pemerintahan yang sedang berjalan.

"Saat ini mungkin pernyataan itu lebih pada upaya untuk mempertahankan stabilitas pemerintahan dulu ya. Maksudnya tidak memunculkan apa istilahnya, seolah-olah tidak mendukung, tidak loyal terhadap pemerintahan yang sekarang masih berjalan, seperti itu," katanya.

Caroline pun menilai perbedaan pernyataan Dedi dapat terjadi karena konteks pertanyaan yang berbeda dan jawaban spontan saat berhadapan dengan wartawan.

"Ya, berubah-ubah itu kan tergantung, ya mungkin ada banyak hal ya ditanya wartawan dalam situasi seperti apa begitu, sehingga jawabannya spontan, tidak direncanakan begitu ya, sehingga terkesan berubah-ubah, begitu," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti