Jabar Berencana Kembangkan Potensi Bambu lewat 'Baju Baja'
Indonesia adalah salah satu negara penghasil tanaman bambu atau dalam istilah Sunda disebut awi. Di Jawa Barat sendiri konon memiliki sekitar 56 jenis bambu yang khas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Indonesia adalah salah satu negara penghasil tanaman bambu atau dalam istilah Sunda disebut awi. Di Jawa Barat sendiri konon memiliki sekitar 56 jenis bambu yang khas, namun kini dikabarkan hanya 36 saja yang tersisa.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Barat berencana mengembangkan tanaman bambu dengan berkolaborasi bersama Hijau Lestari Indonesian (HLI). Hal tersebut dipaparkan dalam audiensi program Bambu Juara Bambu Jawa Barat (Baju Baja) di Kantor DLH Jabar, Jalan Naripan, Kota Bandung, Selasa (11/12/2018).
Perencana Pertama Bidang Konservasi Lingkungan DLH Jabar Andri Biantara mengatakan, ada 12 bibit tanaman bambu yang sedang dikembangkan oleh HLI. Nantinya, akan dikembangkan dengan membuat perpustakaan bambu. "Dari pihak DLH pada dasarnya kalau ada peluang kolaborasi akan kita kolaborasikan," ujar Andri.
DLH Jabar memiliki program Desa Ecovillage, yaitu membentuk desa yang berbudaya lingkungan. Sehingga masyarakatnya mampu mengelola lingkungan sesuai dengan kaidah keberlanjutan meliputi konservasi, pemanfaatan dan pemulihan lingkungan. Setidaknya ada 343 desa yang mendapat pembinaan dalam program ini. Bisa jadi, lanjut dia, program tersebut akan dikolaborasikan dengan program Baju Baja yang ditawarkan HLI.
"Karena kita ada desa ecovillage, kan suka ada edukasi pendampingan untuk masyarakat, mungkin nanti informasi terkait Baju Baja ini akan nempel di program itu," katanya.
Sementara itu, Kepala Divisi Perencanaan dan Pembinaan HLI Pusat Oki Hikmawan mengatakan, Jawa Barat memiliki potensi tanaman bambu yang cukup besar. Sebut saja jenis awi (bambu) Bitung dan Awi (bambu) Wulung Hideung yang memang keunggulannya sudah diakui.
Karena itu, sangat disayangkan jika tidak dilestarikan. "Bahkan di luar negeri itu Awi Wulung dijadikan kontruksi rumah, kalau kalau Awi Bitung biasa digunakan untuk hiasan," katanya.
Dia menyayangkan dari 56 jenis bambu khas di Jawa Barat, kini hanya 36 jenis saja yang masih bisa ditemui. Yang sudah punah di antaranya, bambu duri dan bambu tutul. Padahal, dia tambahkan, tanaman bambu ibarat harta karun yang mampu mendongkrak potensi suatu daerah.
Untuk itu dia menggagas program Baju Baja yang bakal disenergikan dengan berbagai stake holder, khususnya bersama DLH Jabar dalam program Ecovillage dan Ecowisata. Selain itu, ada juga penawaran untuk penanaman perpustakaan bambu hidup di Kiara Payung.
"Yang akan kami lakukan menanam jenis-jenis bambu yang langka, kebetulan ini (Kiara Payung) adalah lahannya provinsi Jabar ada 15 hektar, kami anya membutuhkan kurang lebih 6 hektar saja," ujar Oki.
Dia juga akan melakukan penanaman bambu di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) dan lahan kritis yang ada di Jabar. Selanjutnya, berencana membina masyarakat dengan membentuk 100 kelompok kerja desa, sosialisasi dan pengembangan informasi mengenai bambu, pelatihan budidaya tanaman bambu serta pelatihan pemanfaatan bambu.
Tidak hanya itu, imbuh Oki, ada juga tujuan untuk memberi bantuan sarana usaha kepada pelaku usaha di bidang bambu, bimbingan teknis kolektivitas modal usaha, pendampingan pemasaran hingga evaluasi dan pengawasan.
"Kreativitas dari bambu cukup maksimal di Jabar ini, sudah banyak potensi bambu yang berkembang, kami ingin budidaya, konservasi dan pemanfaatan serta pengelolaannya kian unggul," tandasnya.
Editor : inilahkoran

