Jadi Sasaran Program Basnaz KBB, Rutilahu Warga Cikalongwetan Mulai Diperbaiki
Yadi Suryadi (52) warga Kampung Cikara II RT01/12, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa bersyukur lantaran rumah tidak layak huni (rutilahu) yang ditinggalinya menjadi sasaran program Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bandung Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngramprah - Yadi Suryadi (52) warga Kampung Cikara II RT01/12, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa bersyukur lantaran rumah tidak layak huni (Rutilahu) yang ditinggalinya menjadi sasaran program Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bandung Barat.
Pria paruh baya itu hanya berharap bantuan renovasi atau perbaikan Rutilahu tersebut bisa segera rampung agar dirinya bersama istri dan delapan orang anaknya bisa segera tinggal di rumah tersebut.
"Pak Yadi tinggal bersama istri dan delapan orang anaknya di sebuah rumah yang sudah tidak layak huni," kata Pimpinan Baznas Waka 2 H. Saiful Rachman, Minggu 11 Mei 2025.
Saiful menuturkan, kondisi tempat tinggal yang rapuh dan jauh dari standar kelayakan membuat keluarga ini harus menumpang sementara di rumah sang bibi.
"Lima dari anak-anaknya pun masih duduk dibangku sekolah, menambah beban kebutuhan sehari-hari yang cukup berat," tuturnya.
Sebelumnya, ungkap Saiful, warga sekitar secara swadaya telah berinisiatif membantu memperbaiki rumah pa Yadi. Namun, karena keterbatasan dana dan tenaga, pembangunan sempat terhenti.
"Mengetahui kondisi ini dari informasi yang masuk ditindaklanjuti dengan melakukan Assessment yang kemudian memberikan bantuan berupa material bangunan dengan menurunkan dua staf kami untuk mengirim bantuan kelokasi langsung agar proses pembangunan rumah dapat kembali dilanjutkan dan segera ditempati oleh keluarga besar pa Yadi," ungkapnya.
Dengan bantuan tersebut, Saiful berharap, keluarga pa Yadi dapat segera menempati tempat tinggal yang aman, nyaman, dan layak huni.
Menurutnya, bantuan ini juga menjadi bukti nyata bahwa sinergi dan kolaborasi antara masyarakat dan Baznas KBB dapat menjadi spirit dalam menanggulangi persoalan sosial dan ekonomi di tengah-tengah masyarakat secara bersama.
"Kami mengajak seluruh masyarakat di KBB khususnya dan umumnya masyarakat luas untuk terus mendukung program-program kemanusiaan melalui zakat, infak, dan sedekah melalui Baznas, demi kebermanfaatan mewujudkan kesejahteraan umat secara berkelanjutan," tandasnya.
Diketahui, kondisi rumah Yadi Suryadi merupakan rumah panggung tempo dulu dengan dinding bambu yang sudah rapuh. Bahkan, lubang-lubang berukuran besar terlihat jelas di beberapa ruangan, terutama di bagian dapur dan ruang tamu yang sempat ambruk dan menimpa sejumlah barang, seperti rak piring hingga kasur.
Tak cuma itu, tiang-tiang kayu penyangga di rumah berukuran 7x9 meter tersebut terlihat sudah lapuk dimakan usia. Bahkan, tatkala hujan tiba air masuk melalui atap yang sudah rusak dan masuk membanjiri rumah dengan lantai kayu tersebut.
"Saya bersama keluarga sudah mendiami rumah ini sekitar 20 tahunan. Rumah ini dulunya punya orang tua," kata Yadi.
Yadi mengaku, saat hujan tiba rumah yang dihuninya tersebut kerap banjir. Apalagi bersamaan dengan angin kencang yang membuatnya kian khawatir rumahnya bisa ambruk secara permanen.
"Bukan bocor lagi, di bagian ruang tamu dan dapur udah pernah ambruk karena kondisinya udah lapuk. Bahkan, kasur sampai peralatan masak juga ketimpa," kata Yadi.
Meski begitu, ungkap Yadi, dirinya bersama keluarganya tak bisa berbuat banyak lantaran kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk merenovasi rumah yang telah puluhan tahun dihuninya.
"Kerja saya serabutan, pagi nyari rumput buat pakan kambing orang. Setelah itu, saya ngajar ngaji anak-anak kampung sini. Jadi penghasilan saya enggak tentu," ungkapnya.
Apalagi, sambung Yadi, dirinya juga harus membiayai ke delapan anaknya. Meskipun, dirinya dibantu sang istri Azijah (42) yang bekerja sebagai buruh di pabrik basreng.
"Anak saya 8 orang, SD ada 3 orang, 2 di pondok pesantren dan 3 masih kecil-kecil. Istri juga kerja kuli bungkus di pabrik basreng dengan gaji Rp150 ribu per minggu," ujarnya.
Yadi mengaku, dirinya sempat ingin memperbaiki rumahnya itu, namun kondisi ekonomi yang tak memungkinkan membuatnya tak mampu untuk melakukan perbaikan.
"Kondisinya gak memungkinkan, kadang-kadang saya coba sedikit untuk memperbaiki dengan mengumpulkan bambu atau kayu yang dikasih orang. Saya pake kayu atau bambu itu buat nahan atap yang ambruk di belakang (dapur)," ujarnya. ***
Editor : JakaPermana

