INILAHKORAN- Destinasi wisata di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang menerapkan aplikasi PeduliLindungi kian masif.
Pasalnya, hal tersebut perlu dilakukan lantaran menjadi salah satu syarat agar destinasi wisata itu bisa bukan dan menerima kunjungan wisatawan.
Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) KBB, David Oot mengatakan, pihaknya hingga saat ini tengah menggenjot semua pengelola wisata di KBB agar bisa menerapkan aplikasi PeduliLindungi.
Menurutnya, hal itu dilakukan guna meminimalisasi munculnya COVID-19 dari klaster wisata.
"Sebelumnya baru 34 tempat wisata yang mengaplikasikan PeduliLindingi lalu ada penambahan lagi satu, jadi kini totalnya sudah ada 35 tempat wisata," ucapnya, Rabu 22 Desember 2021.
Ia menilai, para pengelolanya wisata antusias untuk menerapkan aplikasi tersebut. Seperti dari sektor perhotelan, penginapan, restoran, dan objek wisata alam.
Ia menyebut, mereka siap mengimplementasikannya, terlebih aturan itu jadi syarat bagi objek wisata ketika membuka operasionalnya.
"Sampai saat ini aplikasi PeduliLindungi di KBB yang paling banyak diterapka di hotel 16 lokasi, 13 restoran/cafe, dan 6 tempat wisata," sebutnya.
Terkait dengan kesiapan menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), lanjut dia, pihaknya bakal mengawasi dengan ketat pelaksanaan protokol kesehatan di semua objek wisata khususnya di kawasan Lembang.
Sebab, kata dia, pihaknya memprediksi akan terjadi peningkatan wisatawan, setelah pemerintah membatalkan pelaksanaan PPKM Level 3.
"Pengawasan prokes wajib dan diperketat. Untuk aturan Nataru acuannya Inmendagri Nomor 66/2021 sementara untuk PPKM acuan di Inmendagri Nomor 67/2021," bebernya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, saat ini KBB berada di PPKM level 2 yang berlaku dari 14 Desember 2021 sampai 3 Januari 2022.
"Itu artinya carring capasity tempat wisata maksimal 50 persen untuk menghindari kerumunan wisatawan," jelasnya.
Selain itu, ia juga meminta para pengelola wisata agar dapat menerapkan ketentuan itu serta mentaatinya.
"Konsepnya penerapan early warning system on tourism destination, yang digunakan sebagai media pencegahan dan penanggulangan COVID-19 saat Nataru," tandasnya. (agus satia negara)***