Jelang Ramdan 1446 H, Harga MinyaKita di Pasar Tradisional di KBB Merangkak Naik

Banderol harga minyak goreng bersubsidi atau MinyaKita di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai merangkak naik jelang bulan suci Ramadan 1446 Hijriah.

Jelang Ramdan 1446 H, Harga MinyaKita di Pasar Tradisional di KBB Merangkak Naik
Di Pasar Tagog Padalarang KBB misalnya, harga MinyaKita mencapai Rp17.000 dari harga eceran tertinggi (HET) yang dipatok Rp15.700. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Banderol harga minyak goreng bersubsidi atau MinyaKita di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai merangkak naik jelang bulan suci Ramadan 1446 Hijriah.

Di Pasar Tagog Padalarang KBB misalnya, harga MinyaKita mencapai Rp17.000 dari harga eceran tertinggi (HET) yang dipatok Rp15.700.

Salah satu pedagang sembako di Pasar Tagog Padalarang KBB, Koswara (69) mengungkapkan, hampir dua bulan harga MinyaKita mengalami kenaikan melebihi harga eceran tertinggi.

"Sejak Januari harganya naik terus, sekarang tembus Rp17.000 per liter. Sebelumnya cuma Rp16.000 per liter,” ujarnya.

Kondisi yang sama diungkapkan pedagang lainnya, Enung (50) yang mengaku kesulitan mendapatkan pasokan MinyaKita dari biasanya. Meskipun ada, harganya jauh lebih mahal dari HET yang ditentukan pemerintah.

Oleh karena itu, sambung Enung, para pedagang sembako baik di pasar maupun toko kelontong terpaksa harus mengikuti harga yang disesuaikan dari agen.

“Kalo dari agen mahal, pasti kita juga naikin harganya. Paling ngambil untung dikit, karena dari sananya udah mahal,” ujarnya.

Enung menilai, salah satu penyebab mahalnya harga MinyaKita lantaran menggunakan aturan sistem kawin dengan minyak goreng lain. Dimana konsumen diharuskan membeli minyak goreng kemasan lain jika ingin mendapatkan Minyakita. 

“Beli MinyaKita, juga harus beli minyak goreng kemasan lain. Jadi enggak bisa full beli Minyakita,” jelasnya.

Sementara itu, seorang ibu rumah tangga, Nurlia (34) mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Sebab, bagi janda anak satu ini kenaikan harga MinyaKita kian menambah beban keluarganya.

“Apa-apa harus naik, sekarang semakin mahal,” ungkapnya.

Selama ini, terang Nurlia, minyak goreng menjadi salah satu kebutuhan pokok utama keluarganya lantaran dirinya selalu 
menggunakan MinyaKita untuk berjualan aneka gorengan seperti sosis, cireng isi, dan bala-bala di pelataran kontrakannya.

Menurutnya, jika MinyaKita terus mengalami kenaikan, maka otomatis bakal menambah biaya pengeluaran untuk membeli minyak berlabel subsidi pemerintah itu.

“Sehari saja saya beli minyak goreng 2 liter. Belum lagi beli keperluan untuk jualan, sementara harga dagangan yang saya jual enggak berani saya naikan karena takut ga laku,” tuturnya.

Nurlia menyebut, tanpa dinaikan pun harga MinyaKita yang dibelinya di warung-warung terdekat rumahnya sudah melampaui HET. 

Harga beli untuk satu liter MinyaKita, kata dia, sudah berada di kisaran Rp18.000 per liter. 

“Makin mahal, harga di pasar dan warung beda selisihnya seribu. Sekarang saja sudah mahal apalagi nanti mau lebaran,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani