Kampus Didorong Perkuat Riset untuk Kebijakan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Kampus bukan sekadar tempat melahirkan sarjana. Di balik ruang kuliah dan laboratorium, perguruan tinggi juga menyimpan gagasan yang dapat membantu menjawab berbagai persoalan bangsa.
Harapan itulah yang kembali ditegaskan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto.
Menurutnya, hasil riset perguruan tinggi seharusnya tidak berhenti menjadi tumpukan laporan ilmiah, tetapi mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi kebijakan yang memberi manfaat nyata bagi pembangunan nasional.
Pernyataan tersebut disampaikan Brian saat menanggapi policy brief bertajuk “Transformasi Kebijakan Strategis Nasional untuk Ketahanan, Kemakmuran, dan Daya Saing Perekonomian Indonesia” yang disusun Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Indonesia (AFEBI).
Brian berharap kalangan akademisi, khususnya dari fakultas ekonomi dan bisnis, semakin aktif menghadirkan kajian yang mampu memperkaya diskursus kebijakan, terutama dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Analisis-analisis terhadap makroekonomi, kami juga banyak berharap teman-teman di AFEBI bisa melakukan diskursus-diskursus bagaimana kita membangkitkan economic growth,” katanya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (4/8).
Menurut Brian, kepakaran akademik memiliki posisi penting dalam proses penyusunan kebijakan publik. Karena itu, ia mendorong agar setiap riset dikembangkan secara lebih fokus dan tematik sehingga mampu menghasilkan rekomendasi yang lebih mendalam, aplikatif, sekaligus relevan dengan berbagai isu strategis yang dihadapi Indonesia.
Semangat yang sama juga disampaikan Ketua Dewan Pengurus Nasional AFEBI, Aurik Gustomo. Ia mengatakan penyusunan policy brief tersebut merupakan bentuk tanggung jawab akademik untuk ikut memberi masukan terhadap arah pembangunan nasional.
“Kami ingin setiap topik ini diperdalam. Kami akan melibatkan berbagai Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Indonesia sehingga kajian ini dapat memberikan kontribusi nyata terhadap program-program strategis nasional,” ujarnya.
Kajian AFEBI memuat sembilan policy brief yang membahas berbagai isu penting, mulai dari hilirisasi industri, transisi energi, transformasi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pengembangan ekosistem halal, kewirausahaan UMKM dalam hilirisasi, Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), pembiayaan sosial nasional, hingga mitigasi bencana. (gin)
Editor : Inilahkoran


