Kang Dedi Mulyadi, Dulur Aing

MUN urang teu wawuh, mangka urang moal ngarti saha anjeun. Mangkana, tingali heula, kakara nyaho saha maneuhna, ejeung naon gawena.

Kang Dedi Mulyadi, Dulur Aing

Oleh: M Nigara (Wartawan Senior)

MUN urang teu wawuh, mangka urang moal ngarti saha anjeun. Mangkana, tingali heula, kakara nyaho saha maneuhna, ejeung naon gawena.  

Artinya: Kalau kita tidak kenal dia, maka kita tidak tahu siapa orangnya. Makanya lihat dulu, baru tahu siapa dia, dan bagai mana kerjanya. 

Begitu kira-kira kalimat pembuka saya menyikapi kiprah Gubernur Jawa Barat 2025-2030, Dedi Mulyadi yang belakangan menyita mata dan hati saya. Khususnya saat ia berjibaku di sungai Cipalabuhan, di Dermaga, Pelabuhan Nusantara, Pelabuhanratu.

Sebagai gubernur, biasanya hanya berdiri di sisi kali. Ia bisa memerintah siapa saja untuk membersihkan kali. Tapi, KDM, begitu ia biasa disapa, justru ikut nyemplung di tengah-tengah sampah. Ikut menarik-narik sampah dengan semangat.

Tak sedikit orang yang menyebut KDM cari panggung, tapi lebih banyak yang justru puas melihatnya berjibaku. Bagi saya? "Aing teu paduli ka nu henteu reseup. Nyieun panggung, ngampar sosial, atawa naon we istilahna, pamingpin kudu siga KDM," 

(Saya tidak perduli pada mereka yang tidak suka. Membuat panggung, oanjat sosial, atau apa pun istilahnya, seorang pemimpin harusnya seperti KDM).

Dulu pernah ada Gubernur di DKI yang masuk gorong-gorong. Padahal jelas, dia hanya aksi saja. Gorong-gorongnya kering, tidak sampah di dalamnya. Posenya telah digoreng begitu rupa hingga disebut pemimpin yang mau turun ke bawah. Dipuja demikian rupa hingga seajan-akan menjadi harapan tentang masa depan Indonesia yang gemilang. Faktanya, kita rasakan sekarang.

KDM muncul di sosial media, khususnya di youtube sudah lebih dari delapan tahun. Turun untuk membantu rakyat susah sejak masih menjadi Bupati Purwakarta ke-8 (2008-2018). KDM juga tidak mau kompromi pada ketidak adilan, kesalahan menerapkan aturan. Maka tak heran jika melihat ia berdebat, membentak mereka yang salah dan ngeyel. Sebaliknya, ia akan berkata lembut dan menenangkan jjka dalam posisi memberi bantuan.

Terus terang, sebagai warga Jabar, almarhun ayah saya asli Citaliktik, Soreang, saat ini saya tinggal di Cinere Depok, sudah bosan mendengar janji politik. Maaf, rata-rata janji palsu. Maka, ketika KDM melaksanakan janjinya dengan cermat, ada harapan besar membentang di hadapan.

Jujur, kalau saja yang memenangkan pilgub lalu bukan KDM, tempat wisata di Puncak, tak akan tersentuh. Dulur Aing teu paduli, ketika semua komplek wisata itu menyalahi peruntukan, bongkar! Maka, sehebat apa pun income nya untuk Pemda, KDM dengan tegas mengembalikannya sebagai daerah resapan.

Bukan, bukan memuji, ketika banyak pemimpin 'mau bernegosiasi dengan para pelanggar' demi keuntungan sektoral, maka hancurlah harapan perubahan itu. Contoh konkretnya, di saat rakyat berteriak soal Pagar Laut, dan pemerintah menindaklanjuti dengan membongkar, lha kok malah orang-orang yang patut dapat diduga sebagai otaknya, diterima pemimpin tertinggi negeri.

Jadi, sebagai rakyat Jabar, kita patut berbangga dengan sikap KDM yang tegas. Sebagai bagian dari negeri Habar, kita patut menjaga langkah-langkah KDM. Maklum, ada anekdot tentang pemimpin di negeri Konoha, jika tidak bisa cair dengan mengikuti arus air, ya singkirkan.

Nah, hingga hari ini, kita berharap seterusnya, KDM tidak bisa cair dengan kesalahan. Sikapnya ini pasti akan menimbulkam gejolak, khususnya untuk mereka yang caur-cair itu. KDM dengan sikapnya telah membuat bendungan agar air kotor tak lagi mengalir di Jawa Barat.

Pasti ada resikonya. Kita, sebagai rakyat negeri Pasundan harus mau bersatu untuk menjaganya. Jika perlu, di setiap pelosok negeri Sunda ini kita buat tim-tim pengawas untuk menjadi mata dan hatinya KDM. Tentu bukan untuk KDM sebagai pribadi, tetapi untuk KDM pemimpin negeri.

Sekali lagi, Aing dulur maneh, anjeun dulur aing.

Terus berjalan lurus saudarku, in syaa Allah, Sang Khalik akan terus menjagamu...


Editor : Zulfirman