Kapasitas Terbatas TPA Sarimukti, Cimahi Genjot Pengolahan Sampah Mandiri

Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengakui sistem penanganan sampah di wilayahnya belum berjalan secara maksimal. 

Kapasitas Terbatas TPA Sarimukti, Cimahi Genjot Pengolahan Sampah Mandiri
Keterbatasan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti mendorong Pemkot Cimahi memperkuat fasilitas pengolahan dalam kota, termasuk penggantian mesin di TPST Santiong pada Juli 2026. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Cimahi Ngatiyana mengakui sistem penanganan sampah di wilayahnya belum berjalan secara maksimal. 

Terlebih saat ini pihaknya dihadapkan pada lonjakan volume limbah harian yang mencapai 250 ton, sementara kuota pembuangan ke TPA Sarimukti sangat terbatas.

Saat ini, Kota Cimahi hanya diperbolehkan membuang sampah menggunakan 14 hingga 15 truk per hari ke TPA Sarimukti. Ketimpangan antara jumlah sampah yang dihasilkan dan ruang pembuangan yang tersedia membuat pola lama 'angkut dan buang' dinilai sudah tidak relevan lagi. 

Imbasnya, Pemkot Cimahi pun terpaksa mengubah strategi dengan memperbanyak titik pengolahan sampah di dalam kota sebagai solusi mendesak.

“Kalau kita masih berjalan dengan pola ambil, angkut, lalu buang tentu hasilnya masih jauh dari harapan," kata Ngatiyana, Rabu (27/5/2026).

"Oleh sebab itu, kami mulai mengembangkan sistem pengolahan di berbagai titik strategis agar ketergantungan ke TPA bisa ditekan drastis,” sambungnya.

Ngatiyana menyebut, berbagai metode pengolahan ramah lingkungan mulai diterapkan, mulai dari produksi bahan bakar alternatif atau Refuse Derived Fuel (RDF), pembuatan pupuk kompos, hingga pemanfaatan maggot untuk mengurai limbah organik. 

"Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Pemkot Cimahi untuk menekan jumlah sampah yang harus dikirim ke tempat pembuangan akhir," sebutnya.

Ngatiyana mengatakan, salah satu fokus perbaikan utama saat ini ada di Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) Santiong. Fasilitas tersebut akan segera mendapatkan pembaruan perangkat pengolahan. 

"Kalau berdasarkan jadwal, penggantian mesin baru dilakukan pada Juli 2026 mendatang, mengingat peralatan lama sudah sering mengalami gangguan teknis dan kinerjanya dinilai tidak lagi optimal," katanya.

Tak cuma itu, mesin lama yang bakal dilepas tidak akan dibuang begitu saja. Menurut rencana, peralatan tersebut bakal diperbaiki dan diservis terlebih dahulu, sebelum akhirnya dipindahkan dan dipasang kembali di lokasi pengolahan sampah lain yang membutuhkan.

“Mesin yang ada sekarang akan kami perbaiki dan rawat dulu, supaya nanti masih memiliki nilai guna dan bisa dimanfaatkan kembali di tempat lain,” tuturnya.

Ngatiyana menerangkan, pembaruan alat ini diproyeksikan bakal meningkatkan kapasitas kerja TPST Santiong secara signifikan. Jika saat ini fasilitas tersebut hanya mampu mengolah sekitar 50 ton sampah per hari, maka setelah terpasangnya mesin baru, kemampuan pengolahan ditargetkan melonjak hingga mencapai 85 ton per hari. 

"Angka ini didasarkan pada hasil evaluasi dan uji coba yang telah dilakukan sebelumnya, yang menyimpulkan bahwa perangkat baru sangat dibutuhkan agar proses pengolahan berjalan lebih efektif," terangnya.

Kendati berbagai upaya ini belum sepenuhnya menyelesaikan masalah secara total, Ngatiyana mengklaim langkah-langkah yang diambil pemerintah daerah perlahan mulai menunjukkan hasil positif dan membantu menstabilkan kondisi persampahan di kota tersebut.

“Yang terpenting saat ini adalah kami terus berupaya dan berinovasi agar pengolahan sampah di Cimahi bisa berjalan sebaik mungkin," ujarnya. 

"Alhamdulillah, sejauh ini persoalan sampah masih bisa kami kendalikan dan teratasi dengan baik, meskipun pengelolaannya belum berjalan secara maksimal dan masih perlu perbaikan berkelanjutan,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani