Karakter Kuat Lindungi Anak Era Digital
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Malang - Tantangan yang dihadapi anak-anak semakin beragam di tengah era digital. Gawai menghadirkan banyak manfaat, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai risiko, mulai dari kecanduan hingga paparan konten yang tidak sesuai dengan usia mereka.
Karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menilai benteng pertama yang melindungi anak bukanlah teknologi, melainkan keluarga. Menurutnya, nilai agama, budi pekerti, moral, dan etika yang ditanamkan orang tua sejak dini akan menjadi bekal penting dalam proses tumbuh kembang anak.
“Orang tua perlu menanamkan fondasi berupa nilai agama, budi pekerti, etika, moral karena ini penting dan akan menjadi benteng diri bagi anak-anak,” kata Arifah di STAI Ma’had Aly Al-Hikam, Kota Malang, Jawa Timur, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (5/8).
Arifah mengatakan, membangun karakter anak merupakan tanggung jawab utama orang tua. Nilai-nilai tersebut akan membantu anak menghadapi berbagai tantangan yang muncul di era digital, termasuk kecanduan gawai dan pengaruh konten negatif di internet.
Menurutnya, karakter yang dibangun melalui nilai keagamaan, budi pekerti, moral, dan etika akan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar sekaligus membentuk kemampuan anak membedakan perilaku yang baik dan buruk.
Meski demikian, Arifah tidak melarang orang tua memberikan telepon seluler kepada anak. Yang terpenting, penggunaan gawai tetap berada dalam pendampingan dan pengawasan orang tua.
“Orang tua memberikan ponsel boleh, asalkan ada pendampingan. Anak tidak bisa dilepas sendirian,” ujarnya.
Dia menilai peran aktif keluarga menjadi pelengkap penting bagi berbagai program perlindungan anak yang dijalankan pemerintah, salah satunya melalui Gerakan Nasional Ruang Aman Nyaman Anak (Gernas RANA).
Namun, tanggung jawab melindungi anak tidak berhenti di rumah. Lingkungan sekolah juga memiliki peran besar dalam memastikan anak tumbuh dalam suasana yang aman dari kekerasan maupun perundungan.
Arifah mengingatkan kepala sekolah, guru, hingga seluruh tenaga kependidikan untuk memperkuat sistem pengawasan terhadap peserta didik. Dia juga mendorong guru bimbingan dan konseling membangun kedekatan dengan setiap siswa agar perubahan perilaku dapat dikenali sejak dini. (gin)
Editor : Inilahkoran


