KBB Tetapkan Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla hingga September 2026
Pemkab Bandung Barat menetapkan siaga darurat kekeringan sebagai dampak dari kemarau panjang hingga September 2026
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat resmi menetapkan status siaga darurat kekeringan yang berlaku mulai 1 Juli hingga 30 September 2026.
Keputusan Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail ini tengah dalam proses penandatanganan, sejalan dengan data Indeks Risiko Bencana Indonesia Tahun 2024 yang menempatkan potensi bencana di wilayah KBB pada kelas risiko tinggi.
"Upaya ini kami lakukan sebagai respons nyata terhadap pola kerawanan yang berulang, di mana pada tahun 2023 tercatat delapan kecamatan terdampak kekeringan, dan tahun 2024 meluas ke tujuh kecamatan berbeda dengan tantangan ketersediaan air bersih yang semakin kompleks," kata Bupati Jeje Ritchie Ismail, Sabtu (4/7/2026).
Jeje menjelaskan, pihaknya telah menyiapkan kerangka kerja terukur mulai dari pendanaan hingga mekanisme operasional guna menjawab tantangan musim kemarau yang panjang ini.
"Anggaran telah dialokasikan melalui pos Belanja Tidak Terduga (BTT) dengan besaran yang disesuaikan secara dinamis dengan kebutuhan aktual di lapangan. Sementara untuk operasional kami didukung oleh tiga unit tangki air yang siap didistribusikan," sambungnya.
Lebih lanjut Jeje menerangkan, mekanisme penyaluran bantuan tidak berjalan sendiri, melainkan mengandalkan respons cepat dari aparatur kecamatan dan desa untuk melaporkan serta mengajukan kebutuhan secara langsung kepada BPBD.
Dengan begitu, bantuan dapat menjangkau wilayah pelosok tanpa tertunda maupun timpang.
“Kami tidak hanya bergerak saat bencana terjadi, namun telah menyusun strategi jangka pendek dan panjang sekaligus memperkuat sinergi lintas pihak,” ucapnya.
Untuk langkah jangka pendek, terang Jeje, pemerintah memetakan wilayah rawan, mengoptimalkan sumur bor dan pompanisasi, serta berkoordinasi erat dengan PDAM dan pemerintah desa.
Sementara untuk jangka panjang, fokus diarahkan pada pembangunan dan rehabilitasi embung, jaringan irigasi, pelestarian daerah resapan, hingga edukasi hemat air.
"Untuk mengantisipasi karhutla, dilakukan pemetaan titik rawan serta kerja sama dengan Perhutani, sedangkan sistem peringatan dini diperkuat melalui program Desa Tangguh Bencana yang menjamin informasi bencana dapat disampaikan dan ditindaklanjuti secara cepat," bebernya.
Jeje menyebut, keberhasilan penanganan selama masa siaga ini nantinya bakal dinilai dari kecepatan respons terhadap laporan, kelancaran distribusi air, serta cakupan warga yang terlayani.
Jeje pun mengajak seluruh elemen masyarakat berperan aktif untuk hemat air, hindari membuka lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, dan segera laporkan jika menemukan tanda-tanda kebakaran.
“Dengan gotong royong, kita mampu meminimalkan dampak kemarau demi keselamatan bersama dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

