Keluarga Balita di Cirebon Penderita Atresia Bilier dan Hernia Buka Donasi Biaya Pendonor Hati
Keluarga balita penderita athresia bilier dan hernia melakukan donasi pendonor hati
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perjuangan panjang harus dilalui seorang balita bernama Fawwas Rosdiana asal Desa Getrakmoyan, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon Balita berusia 8 bulan ini menderita penyakit serius sejak lahir.
Balita tersebut didiagnosis mengalami penyakit atresia bilier dan hernia. Alhasil kedua orang tuanya bernama Asep Rosdiana dan Viantika, harus bolak-balik menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit rujukan. Beruntung anaknya yang terlahir kembar itu, anak yang satunya sampai sekarang tumbuh normal.
Sang ayah bekerja sebagai sopir pabrik menjelaskan secara rinci penyakit yang di derita anaknya tersebut. Sejak lahir, anaknya terdeteksi menderita Penyakit atresia bilier dan muncul lagi penyakit lainnya yaitu hernia. Gejala atresia bilier terlihat ketika semua badan anaknya berwarna kuning.
"Mata anak saya juga warnanya kuning. Lalu tidak lama berselang dokter mendiagnosa anak saya juga terkena hernia," aku Asep, Minggu 11 Januari 2026.
Melihat kondisi tersebut, keluarga tidak tinggal diam. Anak itu langsung dibawa untuk mendapatkan penanganan medis. Rumah sakit pertama yang didatangi adalah Rumah Sakit Ciremai. Namun karena kondisi Fawwas tidak memungkinkan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut, kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
“Jadi langsung dibawa ke rumah sakit saat itu. Ya, pertama ke Rumah Sakit Ciremai, karena di lab HB-nya rendah, jadi dirujuk ke sana, ke RSHS,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, sejak diketahui mengidap atresia bilier dan hernia, Fawwas telah menjalani operasi dua kali di RSHS Bandung. Namun dokter menyarankan, supaya anaknya menjalani operasi cangkok hati. Kalau tidak, maka penyakit anaknya sulit untuk disembuhkan.
"Bingung mas. Biayanya ratusan juta terus uang dari mana. Saya hanya sopir perusahaan," ucapnya pasrah.
Sementara Kepala Desa Getrakmoyan, Junandi, mengatakan operasi yang dibutuhkan bukan hanya soal tindakan medis biasa. Meski biaya operasi sudah ditanggung BPJS, ada kebutuhan lain yang tidak kalah besar, yakni biaya pendonor hati.
“Pembedahan ini kaitannya dengan biaya pendonor, karena untuk operasi sendiri memang sudah pakai BPJS. Tapi operasi hati itu butuh pendonor hati, dan pendonor itu biayanya besar. Ya dikisaran 150 jutaan," ungkap Junandi.
Dengan keterbatasan tersebut lanjutnya, keluarga akhirnya membuka donasi kepada masyarakat sekitar. Upaya itu dilakukan secara swadaya dengan melibatkan perangkat desa dan kader PKK.
“Dari pemerintah desa sekarang ini membuka donasi ke warga masyarakat di desa. Saya sempat membuka donasi,” kata Junandi.
Ia menyebutkan, kader PKK turun langsung ke warga untuk menggalang bantuan. Namun, dana yang terkumpul hingga kini masih jauh dari harapa. Ironisnya, sampai saat ini baru ada uang terkumpul Rp.5 juta bantuan dari warga desa.
Junandi menambahkan, hingga kini keluarga masih berharap adanya uluran tangan dari berbagai pihak agar operasi pendonor hati dapat segera dilakukan. Dia berharap, dengan bantuan masyarakat dan kepedulian bersama, balita tersebut bisa mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih sehat.
"Semoga ada bantuan dari pemerintah. Kasian dia juga butuh sehat seperti bayi lainnya," tukasnya.
Editor : Ahmad Sayuti
