Kembangkan Kawasan Rebana, Apindo Jabar Ajak Para Stakeholder Terkait untuk Berkolaborasi Meningkatkan Kualitas SDM

Apindo Jabar menjadi lembaga yang digandeng pemerintah untuk mengembangkan Kawasan Rebana yang diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jabar. 

Kembangkan Kawasan Rebana, Apindo Jabar Ajak Para Stakeholder Terkait untuk Berkolaborasi Meningkatkan Kualitas SDM
Ketua Apindo Jabar Ning Wahyu Astutik menegaskan, pihaknya siap mengawal kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kawasan Rebana. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Apindo Jabar menjadi lembaga yang digandeng pemerintah untuk mengembangkan Kawasan Rebana yang diproyeksikan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di Jabar. 

Ketua Apindo Jabar Ning Wahyu Astutik menegaskan, pihaknya siap mengawal kebijakan pemerintah untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia (SDM) di Kawasan Rebana.

"Apindo Jabar mengajak para stakeholder untuk meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi tantangan di Kawasn Rebana, terutama dalam pengembangan SDM. Kolaborasi yang lebih erat diperlukan antara perguruan tinggi, pemerintah baik di pusat, provinsi, maupun tujuh kabupaten/kota di Kawasan Rebana serta lembaga vokasi, media, dan masyarakat," kata Ning saat menjadi narasumber dalam acara kunjungan Nagasaki Prefectural Assembly ke Kawasan Rebana, Selasa 30 Juli 2024.

Menurutnya, dalam hal pengembangan SDM itu Apindo Jabar mengajak kolaborasi melalui benchmarking, magang internasional, membangun pelatihan yang lebih komprehensif, dan mengembangkan social design untuk mentransformasi mindset dari agriculture ke industrial. 

Selain itu, penting untuk membangun masyarakat yang memiliki hospitality, mengingat besarnya potensi berkembangnya area di sekitar kawasan industri menjadi kawasan pariwisata seperti yang ada di Kabupaten Kuningan.

Ning menuturkan, Kawasan Rebana memiliki berbagai keunggulan termasuk infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan dan bandara berkualitas internasional. Jabar diakuinya memiliki angkatan kerja terbesar di Indonesia yaitu 25,8 juta atau 17,3% dari jumlah nasional, yang merupakan potensi besar. 

Dukungan pemerintah pusat melalui Perpres Nomor 87/2021 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Rebana dan berbagai Proyek Strategis Nasional di kawasan itu juga memberikan keunggulan tambahan. Terlebih, uilai upah minimum kabupaten/kota (UMK) yang masih relatif rendah menjadikan Rebana sebagai kawasan yang kompetitif untuk berinvestasi.

"Dalam hal pengembangan SDM ini, Apindo Jabar menyatakan kesiapan untuk berkolaborasi dengan Nagasaki Prefectural Assembly ((badan legislatif daerah yang bertanggung jawab atas pemerintahan Prefektur Nagasaki di Jepang) dengan berbagai potensi yang ada di Kawasan Rebana melalui implementasi program strategis Apindo Jabar," jelasnya.

Dia menambahkan, program-program strategis itu bertujuan untuk memaksimalkan potensi yang ada di Jabar, baik potensi sumber daya alam, SDM, hingga potensi UMKM, sehingga mampu mengambil peran penting dalam peningkatan investasi di Kawasan Rebana.

"Nagasaki Prefectural Assembly menyambut baik ajakan kolaborasi dari Apindo Jabar terkait SDM, seperti dalam pemenuhan kebutuhan tenaga kerja di sektor kehutanan dan perikanan di Jepang, di mana saat ini mereka mengalami kekurangan tenaga kerja," ujarnya. 

Ning menyambut baik kunjungan Nagasaki Prefectural Assembly ke Kawasan Rebana. Pertemuan itu merupakan langkah awal penting dalam memperkuat hubungan internasional dan mempromosikan potensi ekonomi Kawasan Rebana dengan harapan dapat meningkatkan investasi dan menjadikan Kawasan Rebana sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia.

Diketahui, acara yang diselenggarakan Badan Pengelola Kawasan Rebana itu digelar di Hotel Horison Ultima Kertajati. Forum itu dihadiri pemerintahan daerah dari tujuh kabupaten/kota di Kawasan Rebana serta pimpinan proyek strategis di Kawasan Rebana seperti Direktur PT Pelabuhan Patimban International, Direktur PT BIJB Aerocity Development, Ketua Harian Kuningan Tourism Development Board, Direktur Politeknik Manufaktur Bandung, dan para tamu undangan lainnya.


Editor : Doni Ramdhani