Kementan Dorong Peternak Beralih ke Sistem Bebas Sangkar untuk Ayam Petelur
Kementan mendorong peternak ayam petelur beralih dari kandang baterai ke sistem cage free demi kesejahteraan hewan dan keamanan pangan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong peralihan sistem pemeliharaan ayam petelur dari kandang baterai ke sistem bebas sangkar atau cage free. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan hewan sekaligus mendukung keamanan pangan.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Wirata mengatakan, penggunaan antibiotik secara berlebihan pada peternakan intensif dapat memicu resistensi antimikroba yang menjadi ancaman serius bagi kesehatan.
"Resistensi antimikroba itu adalah suatu hal yang sangat ditakutkan. Bahkan ada satu kajian yang mengatakan kalau ini tidak diantisipasi, tidak dicarikan solusi, resistensi antimikroba itu akan menjadi momok yang sangat menakutkan di tahun 2050," ujar Ketut dalam acara Beyond the Cage di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Sabtu (5/9/2026).
Ketut menjelaskan, sistem kandang baterai membuat ruang gerak ayam petelur sangat terbatas. Setiap ekor ayam hanya memiliki ruang sekitar 450 sentimeter persegi atau lebih kecil dari selembar kertas A4.
Kondisi tersebut membuat ayam tidak leluasa melakukan perilaku alaminya, seperti mengepakkan sayap, bertengger, mandi debu, dan bersarang.
Kajian European Food Safety Authority (EFSA) pada 2019 juga mencatat prevalensi Salmonella pada telur dari sistem kandang baterai 25 persen lebih tinggi dibandingkan telur dari sistem bebas sangkar.
Menurut Ketut, penerapan kesejahteraan hewan mengacu pada prinsip lima kebebasan yang berlaku secara universal bagi hewan ternak, termasuk ayam petelur.
"Ada lima kebebasan hewan, mulai dari bebas lapar, haus, sakit, stres, hingga bebas mengekspresikan perilaku alaminya," katanya.
Penerapan sistem cage free telah dimulai di sejumlah daerah, termasuk Jawa Barat dan Bali. Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025 sebagai dasar penerapan kesejahteraan hewan dalam pemeliharaan unggas.
peternak cage free dari PT Inti Prima Satwa Sejahtera, Roby Gandawijaya, mengatakan sistem pemeliharaan bebas sangkar kini semakin mudah diterapkan karena telah tersedia pusat pelatihan atau training center di Yogyakarta.
Roby menjelaskan, harga telur dari sistem cage free sekitar 30 persen lebih tinggi dibandingkan telur komersial. Menurutnya, selisih harga tersebut sebanding dengan kondisi pemeliharaan ayam yang lebih baik.
Menurut Roby, perbedaan harga juga menjadi bagian dari pilihan konsumen untuk mendapatkan produk pangan yang dihasilkan melalui sistem peternakan yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan.
Sistem cage free membutuhkan lahan yang lebih luas agar ayam memiliki ruang gerak memadai. Produktivitas telur juga cenderung lebih rendah dan biaya produksi lebih tinggi karena peternak berupaya mengurangi penggunaan antibiotik.
"Hampir tidak ada, kami menjauhkan penggunaan antibiotik. Namun, kami menggunakan bahan lain, seperti kunyit, dan lain-lain, untuk menunjang kesehatan ayam," ujar Roby.
Sejak 2019 hingga 2024, kampanye Beyond the Cage yang digelar Act For Farmed Animals (AFFA) telah mendorong 15 perusahaan menerbitkan kebijakan cage free.
Pameran Beyond the Cage berlangsung pada 5-7 September 2026 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan terbuka gratis untuk masyarakat umum.
Editor : Ahmad Sayuti

