Ketika Bahasa Ibu Menemukan Panggungnya
SEBANYAK 434 siswa membawa bahasa Sunda ke panggung FTBI. Mereka merawat bahasa ibu sekaligus jati diri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Suara anak-anak bergantian memenuhi ruang. Ada yang mendongeng, membacakan sajak, melantunkan pupuh, hingga menyampaikan biantara dalam bahasa Sunda.
Bagi mereka, bahasa ibu bukan sekadar rangkaian kata, tetapi bagian dari cerita tentang siapa diri mereka dan dari mana mereka berasal.
Sebanyak 434 siswa SD dari 30 kecamatan di Kabupaten Bandung berkumpul dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Bandung 2026.
Festival yang mengangkat bahasa, sastra, dan budaya Sunda itu berlangsung di Transmart Bojongsoang serta SD Negeri Cipagalo 1, 2, dan 3, Kecamatan Bojongsoang, Rabu (23/9).
Tujuh mata lomba menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka. Mulai dari Ngadongeng, Biantara, Maca Sajak, Maca jeung Nulis Aksara Sunda, Ngarang Carita Pondok, Nembang Pupuh, hingga Ngabodor Sorangan atau Borangan.
Namun, festival itu bukan semata tentang siapa yang berdiri sebagai juara. Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Yusup Salim, mengatakan FTBI merupakan bagian dari pendidikan untuk menjaga bahasa Sunda tetap hidup di tengah generasi muda.
“Target yang paling utama bahwa kegiatan FTBI ini bukan hanya sekadar perlombaan. Di dalamnya adalah pendidikan dan unsur ngamumule bahasa,” ujar Yusup.
Bahasa, bagi Yusup, juga menjadi pintu untuk mengenalkan jati diri. Ungkapan basa téh cicirén bangsa menjadi salah satu pijakan dalam kegiatan tersebut.
Ketika seorang anak mampu berbicara menggunakan bahasa ibunya, yang tumbuh bukan hanya kemampuan berkomunikasi. Di dalamnya ada proses mengenali asal-usul, lingkungan, dan identitas budaya yang melekat pada dirinya.
“Ketika anak mampu mengungkapkan kalimat dengan bahasa Sunda, dengan bahasa ibunya, bukan sekadar dia sedang berkomunikasi. Tapi dia mengenal dirinya, mengenal siapa dia, dari mana dia asalnya,” katanya.
Nilai-nilai tersebut kemudian diharapkan berjalan seiring dengan pembentukan karakter melalui Pancawaluya: cageur, bageur, bener, pinter, dan singer.
Bagi ratusan peserta, festival juga menjadi hasil dari proses panjang yang berlangsung jauh sebelum mereka berdiri di panggung. Para siswa telah mendapat pembinaan dan latihan di sekolah masing-masing.
Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung, Kiki Taufik Kurnia, mengatakan pengenalan bahasa ibu memang perlu dimulai sejak usia sekolah.
“Dari anak usia dini kita sudah memberikan pemahaman tentang bahasa ibu,” kata Kiki.
Latihan itu tidak hanya mengasah kemampuan mendongeng, nembang pupuh, biantara, membaca carita pondok, atau aksara Sunda. Di balik latihan yang berulang, anak-anak juga belajar disiplin, bekerja keras, berani tampil, dan tidak mudah menyerah. (dani r nugraha/gin)
Editor : Inilahkoran

