Ketika Debu Mengubur Suara Warga
BUKAN sekali dua kali warga mengeluh. Setelah bertahun-tahun hidup berdampingan dengan debu dan getaran, kesabaran mereka akhirnya mencapai batas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
Setiap pagi, sebelum aktivitas dimulai, sapu kembali diayunkan di rumah-rumah warga Kampung Pojok Angkasa, Desa Ciburuy. Lantai yang baru dibersihkan sehari sebelumnya kembali diselimuti lapisan debu hitam. Jemuran yang mestinya kering dan bersih pun berubah kusam.
Bagi sebagian warga, pemandangan itu bukan lagi kejadian sesekali, melainkan rutinitas yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesabaran yang lama dipendam akhirnya tumpah ke jalan.
Puluhan warga, mayoritas ibu-ibu dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, mendatangi PT Kurnia Marmer, Sabtu (25/7) lalu. Mereka menuntut perusahaan segera menjawab keluhan yang selama ini dinilai tak pernah benar-benar terselesaikan.
Bagi warga, persoalannya bukan hanya debu. Getaran mesin yang beroperasi selama 24 jam dan rencana pembangunan benteng di belakang permukiman tanpa sosialisasi turut memicu kemarahan.
Salah seorang perwakilan warga, Lintang (27), mengatakan aksi dilakukan setelah berbagai keluhan yang disampaikan kepada perusahaan tidak membuahkan perubahan berarti.
"Ada dua persoalan utama, yakni dampak operasional pabrik yang berjalan 24 jam dan rencana pembangunan benteng di Kampung Pojok Angkasa yang dilakukan tanpa pemberitahuan kepada warga," katanya, Senin (27/7).
Menurut Lintang, debu hitam diduga berasal dari proses pembakaran di dalam pabrik. Warga mengaku harus membersihkan rumah setiap hari karena lantai kembali dipenuhi debu seperti abu arang. Pakaian yang dijemur di luar rumah pun kerap kembali kotor.
Warga juga mencurigai penggunaan bahan bakar petcoke yang mengandung sulfur tinggi. Mereka menilai emisi yang dihasilkan berdampak pada kesehatan, mulai dari gatal-gatal, gangguan pernapasan hingga sesak napas.
Tak hanya udara yang mereka rasakan berubah. Getaran mesin yang berlangsung siang dan malam disebut ikut mengganggu kenyamanan warga.
Kekecewaan semakin memuncak ketika muncul rencana pembangunan benteng di belakang permukiman. Warga mengaku tidak pernah diajak bermusyawarah maupun menerima pemberitahuan sebelumnya.
"Katanya mau dibangun benteng di belakang rumah, tapi tidak ada pemberitahuan atau perundingan terlebih dahulu dengan warga," ujar Nengsi (58).
Menurutnya, langkah-langkah yang selama ini dilakukan perusahaan, seperti penyiraman jalan, belum mampu mengatasi debu halus yang tetap masuk ke dalam rumah. Hingga kini, warga juga mengaku belum menerima solusi teknis maupun kompensasi yang dianggap menyentuh akar persoalan.
Melalui aksi tersebut, warga meminta aktivitas yang dinilai mencemari lingkungan segera dievaluasi. Mereka juga mendesak perusahaan membuka ruang dialog yang lebih transparan dan melibatkan masyarakat dalam setiap rencana pembangunan yang berdampak langsung terhadap lingkungan sekitar. (gin)
Editor : Inilahkoran

