Ketika Layar Digital Mengusik Ruang Pikiran
GENERASI Z tumbuh bersama teknologi digital. Kini, tantangannya bukan hanya terhubung, tetapi juga menjaga kesehatan pikiran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Yuliantono
Layar ponsel kini hampir selalu berada dalam genggaman Generasi Z. Dari bangun tidur hingga menjelang istirahat malam, berbagai aktivitas berlangsung melalui ruang digital.
Namun, di balik kemudahan komunikasi dan derasnya arus informasi, muncul persoalan baru yang menyentuh sisi psikologis anak muda.
Ketergantungan terhadap gawai dan media sosial mulai menunjukkan dampak terhadap kesehatan mental Generasi Z di Jawa Barat. Kecemasan, tekanan mental, hingga menurunnya kemampuan berkonsentrasi menjadi sejumlah persoalan yang muncul akibat tingginya intensitas penggunaan media digital.
Temuan tersebut diungkap Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat dalam kegiatan Ngawangkong Atikan Penyiaran di SMAN 1 Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran.
Wakil Ketua KPID Jawa Barat, Almadina Rakhmaniar mengatakan, perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan penguatan literasi dan perlindungan terhadap masyarakat, khususnya anak muda yang menjadi kelompok paling aktif menggunakan media digital.
“Kami riset di wilayah Jawa Barat dengan membagi menjadi enam klaster. Riset dilakukan terhadap Gen Z,” ujar Almadina.
Dalam penelitian KPID Jabar pada 2025, hampir seluruh responden diketahui telah menjadikan perangkat digital sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebanyak 99,5 persen responden menggunakan gawai, bahkan mayoritas memiliki lebih dari satu akun media sosial.
Namun, tingginya penggunaan perangkat digital tersebut juga membawa konsekuensi. Salah satunya adalah munculnya fenomena nomophobia, yakni rasa cemas ketika seseorang jauh dari telepon seluler atau merasa takut tertinggal informasi terbaru di media sosial.
Kondisi tersebut dialami oleh 38,10 persen responden. Mereka merasa gelisah ketika tidak memegang ponsel atau khawatir melewatkan berbagai informasi yang sedang ramai diperbincangkan di dunia maya.
“Kan kita berbicara penyiaran itu berdampak pada seseorang, saat ini fokus kami, selain Panca Gatra juga isu psikologis,” kata Almadina.
Selain kecemasan akibat ketergantungan gawai, penelitian juga menemukan masalah lain. Sebanyak 68,39 persen responden mengaku mengalami gangguan konsentrasi, sementara 52,41 persen merasakan tekanan mental akibat paparan dunia digital.
Media sosial juga memengaruhi cara sebagian Gen Z melihat dirinya sendiri. Sebanyak 50,08 persen responden mengaku terbiasa membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain melalui media sosial atau fenomena social comparison.
Tak hanya itu, kebiasaan mengabaikan interaksi langsung karena terlalu fokus pada layar atau phubbing juga menjadi perhatian. Fenomena tersebut tercatat dialami lebih dari 70 persen responden.
(gin)
Editor : Inilahkoran


