Ketika Masker Menjadi Penjaga Napas

Ketika Masker Menjadi Penjaga Napas
BERBURU MASKER: Sejumlah warga tengah berburu masker di Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat, untuk mengantisipasi sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, Senin (7/9).

Masker kembali menjadi barang yang diburu. Bukan karena wabah, melainkan karena kekhawatiran terhadap abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mulai terbawa angin hingga sejumlah wilayah, termasuk Jakarta dan Bandung Raya.

Pasar Pagi Asemka, Jakarta Barat, menjadi salah satu tempat warga mencari perlindungan sederhana itu. Di antara lalu-lalang pembeli, masker mulai berpindah dari tangan pedagang ke tangan warga yang ingin memastikan keluarga tetap terlindungi.

Imam, salah seorang pedagang, bahkan baru pertama kali berjualan masker. Sebelumnya, ia bekerja sebagai pengantar barang. Ajakan seorang teman membuatnya beralih sementara, mengikuti kebutuhan masyarakat yang meningkat setelah kabar sebaran abu vulkanik beredar.

"Ya untuk saat ini kan yang lagi dibutuhkan sama masyarakat itu kan masker. Jadi ya ada teman yang nyuruh saya untuk jual masker, jadi saya ngikut untuk bantuin jualan gitu,” kata Imam saat ditemui di Pasar Pagi Asemka, Jakarta, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (7/9).

Hari pertamanya berjualan ternyata cukup ramai. Pembeli datang satu per satu, kebanyakan membeli untuk kebutuhan keluarga. Ada yang mengambil satu bungkus, ada pula yang membawa beberapa bungkus sekaligus.

“Dari tadi lumayanlah agak ramai ya. Karena mungkin baru pertama ramai lagi, jadi baru pertama jualan juga,” ungkapnya.

Satu bungkus masker dijual Rp10 ribu. Namun, Imam mengatakan harga sejumlah jenis masker berpotensi meningkat karena persediaan di tingkat distributor mulai menipis. Beberapa jenis, seperti masker Duckbill, bahkan disebut mulai sulit ditemukan.

"Kurang tahu juga sih (harga sebelumnya). Tapi untuk saat ini sih pasti ada kenaikan ya untuk harga maskernya ya. Soalnya banyak yang kosong juga kayak semacam Duckbill itu kosong semua," kata Imam.

Pembelian dalam jumlah besar belum mendominasi. Sebagian besar warga membeli satu hingga lima bungkus. Hanya beberapa pembeli yang mengambil lebih banyak untuk dijual kembali.

“Untuk saat ini sih baru per-perorangan doang sih. Ya paling 1, 2, sampai 5 (bungkus). Kecuali untuk yang dijual lagi paling ada yang beli 10, satu lusin, 20 gitu," ucapnya.

Faizah, salah seorang warga yang datang berburu masker, merasakan sendiri perubahan harga. Masker yang biasanya mudah diperoleh dengan harga terjangkau, kini ditemukan dengan harga lebih tinggi di sejumlah lapak.

"Biasanya kan Rp10 ribu. Di sini ada yang jual Rp10 ribu (eceran satu bungkus). Tapi kalau di pedagang lain harganya udah ada yang sampai Rp25 ribu yang berisi 50 lembar, padahal sebelumnya hanya Rp10 ribu,” katanya.

Meski begitu, Faizah tidak ingin berlebihan. Masker yang dibelinya hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Baginya, perlindungan tetap diperlukan, terutama bagi anak-anak yang masih harus beraktivitas di luar rumah.

“Secukupnya aja buat keluarga aja. Nanti banyak-banyak entar dikira ini lagi (menimbun),” imbuhnya.

Kekhawatiran serupa muncul di Cimahi. Jika di Asemka warga datang sendiri mencari masker, di sejumlah sekolah masker justru didatangkan untuk dibagikan kepada pelajar.

Polres Cimahi menyebarkan masker kepada siswa sebagai langkah antisipasi paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin hingga Bandung Raya.

Kapolres Cimahi AKBP Moh. Faruk Rozi mengatakan pembagian tersebut merupakan tindak lanjut arahan pimpinan untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Sebelumnya, masker juga dibagikan kepada pengendara.

"Jadi kita menindaklanjuti arahan pimpinan soal antisipasi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau agar memakai masker. Kemarin kita memberikan masker ke pengendara, sekarang ke anak-anak sekolah," katanya.

Anak-anak menjadi perhatian karena aktivitas sekolah tetap berjalan ketika paparan abu mulai dirasakan sejak Minggu (6/9). Masker diharapkan menjadi perlindungan sederhana agar partikel tidak mudah masuk ke saluran pernapasan.

"Makanya kita minta masyarakat terutama anak sekolah menggunakan masker karena bahaya untuk kesehatan, apalagi ketika terhirup. Kalau memungkinkan juga menggunakan kacamata supaya mata tidak perih dan iritasi," ujarnya.

Pakar Kebencanaan Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Dr. Daryono menjelaskan, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Karakter fisiknya yang tajam serta kandungan kimianya membuat partikel tersebut perlu diwaspadai.

"Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring, partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis (kurang dari 2 mm)," kata Daryono.

Partikel yang sangat halus dapat melewati penyaringan alami hidung dan masuk lebih jauh ke saluran pernapasan. Ketika mencapai bagian dalam paru-paru, paparan tersebut dapat menimbulkan gangguan kesehatan.

"Secara kimiawi, partikel abu vulkanik diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," katanya. (gin) 


Editor : Inilahkoran