Ketipu Rp5 Juta oleh 'Gubernur Dedi Mulyadi' di Facebook, Didi Mahdi Mengadu ke Bale Pananggeuhan Gedung Sate

Bersama istrinya, Lilis Rohaeti (73), Didi Mahdi (73), warga Padasuka, Cicaheum, Kota Bandung, mendatangi pos pengaduan masyarakat, Bale Pananggeuhan, Gedung Sate, Senin 6 Oktober 2025 dengan membawa harapan.

Ketipu Rp5 Juta oleh 'Gubernur Dedi Mulyadi' di Facebook, Didi Mahdi Mengadu ke Bale Pananggeuhan Gedung Sate
Uangnya sebesar Rp5 juta, hasil meminjam dari rentenir diharapkannya bisa kembali. Dimana uang tersebut melayang, akibat scam atau penipuan yang menggunakan video 'Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi', hasil editan dari artificial intelligence. (yuliantono)

INILAHKORAN, Bandung - Bersama istrinya, Lilis Rohaeti (73), Didi Mahdi (73), warga Padasuka, Cicaheum, Kota Bandung, mendatangi pos pengaduan masyarakat, Bale Pananggeuhan, Gedung Sate, Senin 6 Oktober 2025 dengan membawa harapan.

Uangnya sebesar Rp5 juta, hasil meminjam dari rentenir diharapkannya bisa kembali. Dimana uang tersebut melayang, akibat scam atau penipuan yang menggunakan video 'Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi', hasil editan dari artificial intelligence.

Sebab itu Didi berharap, kedatangannya ke Bale Pananggeuhan, muncul kebijakan hingga bisa melunasi utangnya kepada rentenir.

"Ke sini sudah tiga kali. Jadi bapak teh mau ada keputusan, ada kebijaksanaan dari Bapak Gubernur untuk bayar utang ke rentenir," ujar Didi di depan Bale Pananggeuhan.

Lilis menimpali, masalah ini terjadi ketika Juni 2025 lalu dirinya melihat di Facebook bahwa Gubernur Dedi Mulyadi membagi-bagikan uang senilai Rp100 juta. Kemudian komunikasi berlanjut ke aplikasi WhatsApp, dengan dalih uang tersebut akan digunakan oleh Mahdi untuk apa. Keduanya kian percaya, karena pesan suara dan video call betul-betul sosok Dedi Mulyadi.

"Video call dia, uangnya mau dipakai apa. Makanya ibu percaya, dia minta uang sampai Rp5 juta. Sudah Rp5 juta, dia minta lagi Rp2,5 juta tapi ibu tidak kasih, sebab utang ke rentenir sudah membengkak," cerita Lilis.

Didi mengakui, ini merupakan kali ketiga dirinya tertipu scam di media sosial. Sebelumnya, dirinya sudah pernah ditipu dengan mengatasnamakan penyanyi dangdut Lesti Kejora sebesar Rp9,5 juta dan Mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Rp3 juta.

Lain Didi, beda pula cerita Saroja, Batununggal, Kota Bandung, Ai Rosita (55) yang mengaku sengaja datang ke sini lantaran ingin meminta bantuan Pemprov Jabar untuk pendidikan anaknya sekaligus kebutuhan kehidupannya sehari-hari. 

"Ya mudah-mudahan bisa mendapatkan bantuan untuk pendidikan anak saya minimal sampai lulus SMA dan berharap bisa bertahan hidup. Saya punya anak tiga, satu sudah menikah, satu duduk di kelas 2 SMA, dan satu lagi baru masuk SMP. Biaya hidup saat ini berat, apalagi saya seorang janda. Saya bekerja sebagai buruh cuci yang upahnya pas-pasan, kadang ada bekal untuk anak dan terkadang tak ada. Saya dapat bantuan program keluarga harapan (PKH) diancam dicoret, lalu bantuan pendidikan pun khawatir tak sampai. Maka, saya hanya ingin bisa bertahan hidup enggak muluk-muluk," ujarnya.

Ai mengaku, pelayanan ini tidak ribet melainkan cepat kurang dari 15 menit untuk mendapatkan surat tanda terima yang tercantum nomor pelayanan tersebut hingga nanti warga Jabar dihubungi langsung untuk tindaklanjutnya.

Keluhan atau aduan lain datang dari warga Bandung Barat, Andri dan Yanti yang merupakan pasangan suami istri. Dia datang untuk mengadukan permasalahan hukum yang menimpa keluarganya tepatnya kasus kecelakaan di Tol KM 13,5 Moh Toha (masuk Polresta Bandung).

"Kecelakaan terjadi 5 September lalu. Saat itu mobil kami sedang mogok, saya pun tengah mencari sparepart, tapi tiba-tiba ada pengendara lain melaju dengan kecepatan tinggi menabrak kakak ipar saya. Mereka sampai sekarang tak tanggung jawab, katanya mau diselesaikan secara kekeluargaan tapi sampai saat ini enggak ada itikad baik. Semoga dengan mengadukan ke sini masalah cepat selesai. Kami meminta ganti unit mobil dan tanggung jawab ke anak almarhuk yang menjadi yatim sekarang. Waktu itu mereka menyanggupi tapi ternyata sampai sekarang belum dan justru saling lempar antara sopir dengan bosnya," katanya.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi per 6 Oktober 2025 ini menghadirkan fasilitas berupa layanan pengaduan yang diberinama Bale Pananggeuhan. Layanan pengaduan ini bersifat satu pintu yang dikelola Setda Pemprov Jabar dengan tujuan sebagai tempat pelayanan dan pengaduan satu pintu bagi masyarakat Jabar dalam bidang kesehatan, pendidikan dan bantuan hukum.

Bale Pananggeuhan ini buka sejak pagi pukul 08.00 WIB - 16.00 WIB dari Senin sampai Jumat. Lokasi Bale Pananggeuhan ini berada di pinggir Masjid Pemprov Jabar. Saat memasuki ke Bale Pananggeuhan ini, warga Jabar akan disambut oleh petugas yang berjaga di depan pintu sekaligus mengarahkan untuk mengambil nomor antrean. 

Hingga pukul 11.00 WIB, berdasarkan petugas sudah ada sebanyak ratusan aduan yang masuk. Warga Jabar pun hanya perlu mempersiapkan kartu keluarga (KK) dan KTP. Nanti pun akan diarahkan sesuai keluhannya, entah kesehatan, pendidikan, atau bantuan hukum.

Dari pantauan INILAH, masyarakat sejak pukul 06.00 hingga pukul 13.00 WIB telah mendatangi Bale Pananggeuhan. Pada hari pertama ini, sampai siang sudah 63 aduan yang diterima Bale Pananggeuhan Gedung Sate


Editor : Doni Ramdhani