Asa Seorang Ibu Mengetuk Pintu Bale Pananggeuhan, Perjuangan Mengobati Sinusitis Putranya yang Tak Ditanggung BPJS
Di wajah Heni Hidayah (38), kelelahan dan harapan tampak bersamaan. Jumat sore, 28 November 2025, ia tengah duduk dengan nafas tak beraturan menunggu dipanggil di Pos Aduan Bale Pananggeuhan, Gedung Sate, tempat yang kini menjadi tujuan akhirnya setelah upaya lain tak memberi hasil.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Di wajah Heni Hidayah (38), kelelahan dan harapan tampak bersamaan. Jumat sore, 28 November 2025, ia tengah duduk dengan nafas tak beraturan menunggu dipanggil di Pos Aduan Bale Pananggeuhan, Gedung Sate, tempat yang kini menjadi tujuan akhirnya setelah upaya lain tak memberi hasil.
Ia datang membawa satu permintaan sederhana namun berat bagi seorang ibu, kesembuhan bagi putra kesayangannya.
Putranya dinyatakan menderita sinusitis yang harus ditangani dengan perawatan rutin. RSUD Lembang, tempat ia berkonsultasi, mewajibkan anaknya menjalani prosedur cuci hidung setiap hari selama lima bulan, menggunakan cairan khusus yang tidak murah. Tiga botol dalam sehari. Lima bulan tanpa jeda.
Bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi, angka itu terasa menyesakkan.
"Terus terang, enggak sanggup. Mungkin sebulan Rp1,5 juta. Kali lima bulan sudah berapa," tutur Heni, matanya berkaca-kaca saat menceritakan ulang betapa biaya itu nyaris membuatnya menyerah.
Ketika Pengobatan Harus Tertunda
Kesulitan biaya membuat Heni menunda pengobatan selama dua minggu. Penundaan ini membuat dokter RSUD Lembang memberikan teguran keras. Heni ingin mengikuti anjuran medis, tapi situasi tidak memungkinkannya.
"Ini pun tadi tuh sempat ini juga sih sama dokter RSUD, harusnya dari udah dua minggu yang lalu cuci hidung. Cuman berhubungnya seperti itu keadaannya, gak bisa. Jadi tadi tuh adegah marah-marah sih dokternya," ucapnya lirih.
Masalah makin pelik karena prosedur cuci hidung tersebut tidak bisa ditanggung BPJS Kesehatan. Sinusitis, menurut keterangan yang diterima Heni, dikategorikan sebagai penyakit dengan biaya tinggi sehingga tidak seluruhnya masuk dalam cakupan.
"Enggak bisa pakai BPJS. Katanya sinusitis itu penyakit yang mahal. Jadi enggak semua (bisa ditanggung BPJS)," jelasnya.
Mengetuk Harapan di Bale Pananggeuhan
Dengan langkah ragu namun penuh tekad, Heni mencoba peruntungan dengan mendatangi Bale Pananggeuhan, pos pengaduan yang kerap menjadi rujukan terakhir warga yang kesempitan biaya.
Di sana, ia mengajukan permohonan bantuan obat untuk terapi cuci hidung anaknya.
"Jadi minta tolong ke sini. Bilangnya Alhamdulillah bisa dibantu. Cuma harus ada surat kontrol yang baru. Tadi dari RSUD langsung ke sini, mudah-mudahan bisa dibantu untuk obatnya," harap Heni.
Dan benar, harapan itu tidak salah alamat. Bale Pananggeuhan memastikan akan membantu menyediakan 30 botol cairan yang dibutuhkan. Sebuah keringanan besar bagi Heni yang selama beberapa pekan dicekam kebingungan.
"Alhamdulillah kebantu dikit," ucapnya, kali ini dengan senyum kecil yang perlahan muncul di wajahnya.
Bukan Pertama Kali Meminta Pertolongan
Bale Pananggeuhan bukan tempat asing bagi Heni. Ia pernah datang sebelumnya untuk meminta bantuan menutup tunggakan BPJS. Saat itu, respons cepat datang dan BPJS keluarganya kembali aktif.
"Alhamdulillah enggak lama. Bantuannya cepat. BPJS-nya juga langsung aktif lagi," kenangnya.
Pengalaman itu membuatnya meyakini bahwa pos aduan ini bukan sekadar formalitas, melainkan jaring pengaman nyata bagi warga kecil.
Harapan Lebih Besar Bagi Masyarakat Kecil
Meski syukur begitu kuat dirasakannya, Heni berharap ke depan Bale Pananggeuhan bisa menjangkau kebutuhan masyarakat yang lebih luas, termasuk bantuan untuk memulai usaha kecil.
"Kalau bisa mah asa bantuan kayak modal usaha kecil-kecilan. Pengennya gitu. Soalnya kan memang dilihat dulu latar belakangnya kayak gimana," katanya.
Ikhtiar yang Belum Usai
Usaha Heni belum selesai. Pengobatan masih panjang, biaya masih membayangi, dan putra kecilnya masih memerlukan perawatan intensif. Namun Heni setidaknya pulang dari Gedung Sate dengan secercah harapan, sebuah bekal berharga bagi seorang ibu yang tak ingin melihat anaknya terus menahan sakit.
Bagi Heni, 30 botol cairan itu bukan sekadar obat. Itu adalah pengingat bahwa perjuangannya belum sia-sia.
Editor : Doni Ramdhani


