Khawatir Kemarau Berlangsung Lama, BPBD Bogor Bakal Lakukan Rakor Waspada Kekeringan

Musim kemarau tahun ini diprediksi bakal berlangung relatif lebih lama. BPBD Kabupaten Bogor bakal rapat kordinasi bersama stakeholder terkait.

Khawatir Kemarau Berlangsung Lama, BPBD Bogor Bakal Lakukan Rakor Waspada Kekeringan
Petugas BPBD Kabupaten Bogor membagikan air bersih menggunakan mobil tangki air ke masyarakat. (reza zurifwan)

INILAHKORAN.ID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor mulai ancang-ancang. Pasalnya, musim kemarau tahun ini diperkirakan BMKG bakal berlangsung relatif lama.

Kepala BPBD Kabupaten Bogor Ade Hasrat mengatakan, pihaknynya akan melakukan rapat kordinasi bersama stakeholder terkait. Terlabih, ada kekhawatiran musim kemarau pada 2026 ini bisa lebih panjang seperti halnya pada 2023 lalu yang berlangsung Mei-November.

"Kami akan melakukan Rakor Waspada kekeringan, baik dengan instansi vertikal maupun horisontal. Musim kemarau tahun ini kami khawatirkan lebih panjang seperti yang terjadi tahun 2023 lalu," ujar Ade, Senin (6/4/2026).

Menurutnya, meski titik kekeringan tidak berbeda jauh dari kejadian sebelumnya namun bukan hal mustahil titik kekeringan bisa bertambah atau malah berkurang.

Dia pun berharap, 189 toren yang dibangun jajarannya bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman dan Kawasan Perumahan (DPKP) dalam kondisi baik dam layak pakai.

"Kami berharap, 189 toren bisa difungsikan dengan baik, karena prediksi BMKG musim kemarau dimulai dari Bulan Mei hingga Agustus dan ada potensi hingga Bulan November," tutur Ade.

Dia menjelaskan, titik kekeringan bisa bertambah karena banyak lahan yang dulunya lahan hijau berganti jadi kawasan pemukiman.

Terlebih, banyak warga yang menggunakan sumur bor hingga mempengaruhi cadangan air tanah.

"Titik kekeringan tidak hanya didominasi bagian timur, barat dan utara, Desa Citeko di Cisarua atau selatan atau Kawasan Puncak yang kerap diguyur hujan juga menjadi langganan titik bencana alam kekeringan karena selain lahannya yang tebingan, struktur tanahnya juga tidak maksimal dalam menyerap atau menyimpan air," jelasnya.


Editor : Doni Ramdhani