Tanah, Bibit, dan Telur: Hobi yang Menenangkan Brigjen TNI Agus Bhakti
Di balik tugas sebagai Kasdam III Siliwangi, Brigjen TNI Agus Bhakti menemukan ketenangan lewat bertani dan beternak, dari menanam bibit hingga memanen hasil.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Deretan tanaman hijau dan suara ayam di pekarangan rumah menjadi pemandangan yang kontras dengan kerasnya dunia militer. Namun di situlah Kasdam III Siliwangi Brigjen TNI Agus Bhakti merasakan ketenangan.
Ya, di balik kesibukannya sebagai prajurit, Agus menemukan ruang hening di tanah dan kandang. Jagung, padi, sayuran, hingga ayam petelur bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan bagian dari cara dia menjaga keseimbangan hidup.
“Melihat bibit tumbuh jadi tanaman, ayam bertelur, itu menenangkan. Kita bisa bersyukur atas hidup,” ujarnya saat ditemui INILAH di ruang kerjanya pekan lalu.
Agus membangun sistem pertanian terpadu dalam skala sederhana di rumahnya. Dia menanam berbagai jenis tanaman pangan dan hortikultura, sekaligus memelihara ayam petelur. Hasilnya tak hanya untuk konsumsi pribadi, tetapi juga dibagikan kepada teman-teman yang datang berkunjung.
"Hasilnya ternyata lumayan. Jadi ketika kemarin teman-teman datang, saya kasih oleh-oleh telur dan sayuran," kata Agus.
Kecintaannya pada dunia tanam dan ternak tak lahir begitu saja. Semua bermula dari penugasannya di satuan kewilayahan, saat isu ketahanan pangan menjadi bagian penting dari tanggung jawabnya.
Dia tak hanya berbicara di tataran konsep, tetapi juga turun langsung memahami bagaimana produksi pangan bisa ditingkatkan dari hulu hingga hilir.
“Bagaimana kita bisa meningkatkan produktivitas pangan, baik pangan pokok seperti padi dan jagung, maupun pendukung seperti hortikultura, sayuran, termasuk peternakan,” katanya.
Menurut Agus, upaya tersebut merupakan bagian dari langkah besar menuju kedaulatan pangan. Peran satuan kewilayahan menjadi krusial karena bersentuhan langsung dengan masyarakat dan potensi daerah.
“Para komandan kewilayahan harus bisa meningkatkan produktivitas pertanian dan peternakan, supaya ketahanan pangan itu bisa terus terjaga,” ujarnya.
Dari situlah kedekatannya dengan dunia pertanian dan peternakan tumbuh. Awalnya karena tuntutan tugas, namun perlahan berubah menjadi ketertarikan pribadi.
Dia mulai memahami proses tanam, perawatan, hingga panen, bahkan pernah menanam melon dengan sistem hidroponik saat bertugas di Korea.
“Nah akhirnya saya akrab dengan bidang-bidang ini. Mau tak mau, ya harus mau. Tapi ternyata menyenangkan,” katanya.
Seiring waktu, aktivitas itu tak lagi sekadar tugas, melainkan kebutuhan batin. Dia menemukan kedamaian dalam proses yang sederhana: menanam, merawat, menunggu, lalu memanen.
Bagi Agus, setiap benih yang tumbuh dan setiap telur yang dihasilkan menyimpan makna lebih dalam: tentang kesabaran, ketekunan, dan rasa syukur.
“Dalam hidup, berikan yang terbaik di setiap kesempatan. Kerja keras itu penting, tapi jangan lupa syukur, semua ada campur tangan Tuhan,” ujarnya.
Filosofi itu dia jalani bukan hanya dalam tugas militer, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dia percaya, kesungguhan dalam hal kecil akan membentuk kekuatan dalam hal besar.
Di tengah tanggung jawab besar sebagai Kasdam III Siliwangi, Agus menjaga rutinitas yang membuatnya tetap membumi. Dia membaca, menulis, mengajar, berolahraga, dan tentu saja kembali ke kebun.
"Jogging, jalan kaki, sepeda santai. Kadang kalau yang permainan tenis meja, padel, renang. Jadi mungkin saat ini kan belum terlalu tua, tapi tidak muda juga. Artinya bagaimana kebugaran tubuh ini semua otot masih digunakan," tutup Agus. ***
Editor : Gin gin T Ginulur


