Kisah Zulfa Azkia Mengajar Sepenuh Hati, Honor Tidak Sebanding
Realitas kesejahteraan guru honorer kembali menjadi sorotan. Sebagian guru honorer harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan relatif minim.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Realitas kesejahteraan guru honorer kembali menjadi sorotan. Di tengah tuntutan profesional sebagai pendidik, sebagian guru honorer masih harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.
Zulfa Azkia, guru honorer di SDN Bungursari Kota Tasikmalaya menjadi salah satu potret kondisi tersebut. Perempuan lulusan FKIP Bahasa Inggris tahun 2025 itu selain mengajar di sekolah dasar, dia juga menjadi pengajar di bimbingan belajar serta asisten di kursus bahasa Inggris di Tasikmalaya.
“Untuk sekarang selain guru honorer saya ngajar di bimbel dan jadi asisten kursus bahasa Inggris. Itu sangat menopang kebutuhan sehari-hari,” kata Zulfa, Kamis (23/4/2026).
Meski demikian, Zulfa mengaku tetap menikmati profesinya sebagai guru. Kecintaannya pada dunia pendidikan dan interaksi dengan siswa menjadi alasan utama ia bertahan.
“Sukanya karena saya memang suka dunia pendidikan dan anak-anak. Bisa sharing ilmu dan belajar lagi bagaimana manajemen kelas serta sistem pendidikan yang nyata,” ungkapnya.
Namun, di balik itu dia tidak menampik adanya beban yang dirasakan. Menurutnya, honor yang diterima belum sebanding dengan tanggung jawab yang diemban.
“Untuk dukanya, honor sangat kurang, tidak worth it,” ucapnya.
Dia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah terhadap kesejahteraan guru honorer, termasuk kejelasan dalam sistem pendataan dan peluang pengangkatan.
“Saya harap ada kebijakan pemerintah untuk mendorong sekolah lebih menyejahterakan guru. Selain itu, sistem seperti dapodik juga perlu lebih jelas,” katanya.
Zulfa juga mengaku belum pernah mengikuti seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Di sisi lain, Kepala SDN Bungursari Redi Sumarli menegaskan komitmennya untuk memperjuangkan hak-hak guru. Meski baru menjabat sekitar sepuluh hari, dia langsung mengidentifikasi berbagai persoalan yang dihadapi tenaga pendidik.
“guru itu ujung tombak. Kalau haknya terpenuhi, tentu mereka bisa lebih fokus dalam mengajar,” ujarnya.
Redi menyebut pihaknya akan menjalin komunikasi dengan dinas terkait guna mencari solusi konkret, khususnya terkait kesejahteraan guru honorer.
Editor : Doni Ramdhani

