Kolaborasi Pentahelix Pemkab Bogor Dijalankan Demi Pembangunan Desa Wisata Berkelanjutan

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor melakukan penandatanganan nota kesepakatan untuk membangun masa depan desa wisata.

Kolaborasi Pentahelix Pemkab Bogor Dijalankan Demi Pembangunan Desa Wisata Berkelanjutan
Disbudpar melakukan kolaborasi stakeholder seperti organisasi pariwisata, akademisi, komunitas dan media demi aksi nyata membangun masa depan desa wisata yang berkelanjutan. (reza zurifwan)

INILAHKORAN, Bogor - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor melakukan penandatanganan nota kesepakatan untuk membangun masa depan desa wisata.

Disbudpar melakukan kolaborasi stakeholder seperti organisasi pariwisata, akademisi, komunitas dan media demi aksi nyata membangun masa depan desa wisata yang berkelanjutan.

"Di hari terakhir Festival Desa wisata di Stadion Pakansari, kami melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan untuk membangun masa depan desa wisata yang nyata dan berkelanjutan," kata Kabid Daya Tarik Destinasi Pariwisata Disbudpar Kabupaten Bogor Yuliana Idrus kepada wartawan, Senin 16 Juni 2025.

Yuliana Idrus menuturkan, dalam pelaksanaannya Pemkab Bogor tidak bisa bekerja sendiri dan harus dilakukan secara pentahelix.

"Pemerintah daerah tidak bisa parsial atau bekerja sendiri, tetapi butuh peran dari organisasi pariwisata,  akademisi, komunitas dan media untuk mengembangkan desa wisata untuk tumbuh berkelanjutan, inklusif dan memiliki daya saing," tuturnya.

Ia menjelaskan, bahwa Disbudpar memiliki program kerja yang strategis yaitu Sistem Pendampingan Aktif Desa wisata (Sapa Dewi) sebagai upaya optimalisasi pengembangan desa wisata di Kabupaten Bogor

Dengan adanya strategi ini, diharapkan akan lebih banyak desa wisata yang meningkat kategorinya dan desa wisata di Kabupaten Bogor tidak lagi didominasi oleh desa wisata kategori Rintisan, tetapi Maju dan Mandiri

"Sapa Dewi adalah sebuah pendekatan strategis dan sistematis dalam membina dan mengembangkan desa wisata melalui rangkaian tahapan yang terstruktur, berorientasi pada indikator kategori desa wisata, bersifat akseleratif, dan adaptif terhadap dinamika lokal. Pendampingan ini dilakukan secara langsung, aktif dan kolaboratif, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, serta disesuaikan dengan konteks, potensi, dan tantangan di masing-masing desa," jelas Yuliana Idrus.

Boboy Ruswanto Sekretaris BPC PHRI Kabupaten Bogor mengaku siap berkolaborasi dan bersinergi untuk memajukan Desa wisata.

"PHRI bukanlah pesaing atau kompetitor Desa wisata tetapi rekan kerja dan siap ikut memajukan keberadaan Desa wisata, bersama Asita, dan organisasi lainnya, mari kita bikin paket wisata yang ramah lingkungan dan edukatif," ujar Boboy Riswanto.

Raden Muhamad Wahyu Agie Pradhipta Akademisi dari Institut Pariwisata Trisakti menegaskan langkah kolaborasi adalah kekuatan agar Desa wisata berkembang dari Rintisan, menjadi Maju dan Mandiri.

"Yang terpenting dari pentahelix ini adalah komitmen masyarakat selaku akselerator, oleh karena itu Maju dan Mandirinya Desa wisata itu lebih bergantung dengan peran masyarakat desa tersebut. Kami dari Akademisi siap membantu, agar langkah kalian menjadi orkestra yang luar biasa," tegas Agie Pradhibta.


Editor : Doni Ramdhani