Korban Meninggal dalam Bencana Sumatera Tembus 604 Jiwa, Ratusan Orang Masih Hilang

Perkembangan terbaru korban bencana alam di Sumatera tembus 604 jiwa.

Korban Meninggal dalam Bencana Sumatera Tembus 604 Jiwa, Ratusan Orang Masih Hilang
bencana di sumatera

INILAHKORAN - Jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera terus bertambah. Data terbaru per 1 Desember 2025 mencatat 604 orang meninggal dunia, menjadikan bencana ini salah satu yang paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Selain itu, ratusan orang masih dinyatakan hilang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka dan membutuhkan penanganan medis segera.

Skala dampak yang ditimbulkan sangat luas. Lebih dari 1,5 juta warga terdampak, dan sekitar 570 ribu orang terpaksa mengungsi ke tempat-tempat penampungan sementara. 

Banyak di antaranya tinggal di fasilitas darurat seperti aula sekolah, rumah ibadah, serta bangunan pemerintah yang disulap menjadi pos evakuasi.

Daerah yang paling parah terdampak mencakup sejumlah kabupaten di Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat. Akses menuju beberapa lokasi masih terhambat lumpur, jalan putus, hingga jembatan rusak, sehingga menyulitkan tim penyelamat untuk menjangkau titik-titik yang terisolasi. Kondisi geografis yang sulit memperlambat proses pencarian ratusan korban hilang.

Tim SAR gabungan bersama aparat dan relawan terus berupaya menembus daerah bencana untuk mengevakuasi warga, mendistribusikan bantuan, serta melakukan pencarian korban. Logistik seperti makanan, air bersih, pakaian, serta kebutuhan medis menjadi fokus utama penyaluran, mengingat banyak pengungsi mengalami kekurangan pasokan sejak hari pertama bencana.

Kerusakan infrastruktur turut memperburuk keadaan. Ribuan rumah mengalami rusak berat dan hanyut diterjang banjir, sementara puluhan fasilitas publik dan transportasi rusak sehingga mengganggu aktivitas warga serta proses pemulihan.

Besarnya jumlah korban dan luasnya wilayah terdampak memicu desakan dari berbagai pihak agar pemerintah menetapkan status tanggap darurat nasional untuk mempercepat penanganan. Meski begitu, pemerintah pusat dan daerah saat ini tetap mengintensifkan koordinasi untuk memperluas operasi penyelamatan dan bantuan kemanusiaan.


Editor : Firda Rachmawati