Kota Bandung Terpaksa Harus Kelola Mandiri 500 Ton Sampah per Hari
Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah setiap hari. Akan tetapi jatah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti hanya 981 ton.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kota Bandung menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah setiap hari. Akan tetapi jatah sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti hanya 981 ton.
Artinya, sekitar 500 ton sampah kini harus dikelola secara mandiri di tingkat kota. Kondisi tersebut, mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meluncurkan berbagai program inovatif menangani sampah.
“Sampah yang ada di Kota Bandung berasal dari kita sendiri, maka kita yang harus bertanggung jawab,” kata Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, Senin 23 Februari 2026.
Menurut ia, kapasitas pengolahan mandiri di kota saat ini baru mencapai 300 ton per hari sehingga masih tersisa 200 ton yang berpotensi menumpuk. Ia menekankan, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan dengan satu pendekatan tunggal.
“Jenis sampah kita beragam, terutama organik seperti sisa makanan. Untuk itu, kami memanfaatkan berbagai pendekatan dan teknologi yang adaptif agar pengelolaan lebih efektif,” ucapnya.
Salah satu strategi Pemkot Bandung, dituturkan ia adalah memperkuat kelembagaan dan regulasi. Mulai dari peraturan wali kota hingga undang-undang sebagai dasar pengelolaan sampah terpadu. Infrastruktur juga ditingkatkan, mulai dari optimalisasi TPS, armada pengangkut, akses jalan hingga pelatihan bagi sumber daya manusia pengelola sampah.
TPS 3R4 Rakomala, dikemukakan ia menjadi contoh sukses pengelolaan berbasis masyarakat. Fasilitas tersebut dibangun pemerintah, namun operasional sehari-hari dijalankan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Model itu, dinilai meningkatkan rasa memiliki dan tanggung jawab warga.
“Hingga kini, baru sekitar 30 persen RW atau 500 RW yang memiliki sistem pengolahan mandiri dengan kapasitas total masih kurang dari 40 ton per hari. Untuk memperluas jangkauan, Pemkot meluncurkan program Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah (Gaslah), menempatkan satu petugas di setiap RW untuk mendampingi warga dalam memilah sampah dari sumber,” ujar dia.
Kata ia, pengelolaan sampah organik juga diintegrasikan dengan urban farming dan dapur sehat melalui program Buruan Sae dan Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Sampah organik diubah menjadi kompos untuk urban farming. Hasil panennya mendukung dapur sehat, dan sisa dapur kembali diolah di fasilitas masyarakat.
“Ini membentuk rantai ekonomi sirkular. Sampah tidak lagi menjadi masalah, tapi sumber daya yang bermanfaat,” jelasnya.
Farhan menargetkan seluruh 500 ton sampah yang harus dikelola di dalam kota, tertangani paling lambat akhir semester pertama tahun ini. Penegakan hukum terhadap pembuangan sampah lintas wilayah tetap dilakukan, namun pendekatan utama tetap berbasis partisipasi masyarakat.
“Kalau semua warga ikut memilah dan mengelola sampahnya, Kota Bandung akan lebih bersih dan sehat. Ini tanggung jawab kita bersama,” tandas dia.***
Editor : JakaPermana

