Pengelolaan Sampah Kota Bandung Baru Capai 400 Ton per Hari
Kota Bandung masih menghadapi tantangan besar, dalam sistem pengelolaan sampah yang dinilai belum mampu mengimbangi volume produksi harian warga.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kota Bandung masih menghadapi tantangan besar, dalam sistem pengelolaan sampah yang dinilai belum mampu mengimbangi volume produksi harian warga.
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengakui, sebagian besar sampah masih bergantung pada sistem angkut buang ke TPA dengan kapasitas pengolahan lokal yang masih terbatas.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyebut, saat ini pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga dan kewilayahan baru mampu menangani sebagian kecil dari total sampah yang dihasilkan.
Program seperti maggotisasi dan Kang Pisman, memang sudah berjalan. Namun cakupannya masih terbatas.
“pengelolaan di tingkat wilayah itu berupa maggotisasi, Kang Pisman dan lain-lain. Itu memang hanya kapasitas rumah tangga. Totalnya baru sekitar 22 persen yang bisa kita kelola,” kata Farhan, Jumat (1/5/2026).
Dia menjelaskan, sebagian besar sampah masih harus ditangani melalui fasilitas pengolahan skala besar. Namun, infrastruktur yang tersedia saat ini belum mencukupi menangani seluruh volume sampah harian Kota Bandung.
Menurut Farhan, insinerator yang saat ini digunakan baru mampu mengolah sekitar 150 ton sampah per hari. Sementara total pengelolaan gabungan dari berbagai metode, baru mencapai sekitar 400 ton per hari.
“Insinerator hari ini baru bisa mengelola 150 ton sehari. Jadi total yang bisa kita kelola sekitar 400 ton per hari,” ucapnya.
Dia menambahkan, di luar kapasitas tersebut masih terdapat lebih dari seribu ton sampah per hari yang harus dialihkan ke TPA Sarimukti. Namun, sistem kuota pengiriman membuat pengelolaan menjadi tidak fleksibel.
“Yang seribunya lagi, sebagian kita kirim ke Sarimukti sekitar 980 ton. Tapi itu kuota mingguan. Kondisi ini menunjukkan perlunya penguatan sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir, tidak hanya mengandalkan pengangkutan, tetapi juga pengurangan dan pengolahan di tingkat masyarakat," ujar dia.***
Editor : JakaPermana

