KPK Mengajar Anak Perbatasan: Jujur Tumbuh Bangsa Tangguh
SEKOLAH sederhana di perbatasan menjadi tempat KPK menanam benih antikorupsi. Pendidikan karakter diyakini menjadi fondasi lahirnya generasi yang berintegritas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Kejujuran tidak selalu diajarkan melalui buku pelajaran. Di sebuah sekolah dasar yang berdiri di perbatasan Indonesia dan Timor Leste, nilai itu ditanamkan lewat permainan, cerita, dan keberanian mengatakan yang benar.
Begitulah suasana yang hadir di SD Negeri 2 Tublopo, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membawa program KPK Mengajar ke ruang kelas yang sederhana.
Bagi KPK, pendidikan antikorupsi bukan hanya soal mengenalkan istilah korupsi kepada anak-anak. Yang lebih penting adalah menumbuhkan karakter jujur, bertanggung jawab, dan berani sejak usia dini.
Direktur Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi KPK, Amir Arief, mengatakan pendidikan antikorupsi merupakan investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang berintegritas.
“Program KPK Mengajar tidak serta-merta memberantas korupsi di sekolah dasar. Yang kami lakukan adalah menanamkan bibit kejujuran sejak kecil. Harapannya, 15 hingga 20 tahun ke depan, Kabupaten TTU memiliki pemimpin-pemimpin yang berani dan bersih,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa diajak belajar dengan cara yang dekat dengan dunia mereka. Permainan edukatif, pemutaran film, hingga simulasi sederhana menjadi media untuk mengenalkan arti kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan keberanian.
Pesan yang disampaikan pun berangkat dari kebiasaan sehari-hari, seperti mengerjakan tugas tanpa mencontek, berkata jujur kepada guru, dan berani menyampaikan kebenaran meski dalam hal-hal kecil.
“Keberanian dan kejujuran harus dilatih sejak kecil. Anak-anak perlu dibiasakan untuk berani mengatakan yang benar dan melakukan hal yang benar, meskipun dalam situasi sederhana di lingkungan sekolah,” kata Amir.
Namun, di balik semangat belajar para siswa, tersimpan kenyataan yang tak mudah diabaikan. Sekolah yang dihuni 76 peserta didik itu masih berdiri dengan berbagai keterbatasan.
Sebagian ruang kelas berlantaikan tanah, sementara dindingnya masih menggunakan bebak. Ketika hujan turun, air masuk melalui celah-celah dinding dan mengganggu kegiatan belajar.
Bagi Amir, membangun integritas tidak cukup hanya melalui pendidikan karakter. Anak-anak juga berhak memperoleh lingkungan belajar yang layak.
Karena itu, dia berharap pemerintah daerah bersama masyarakat dapat mendorong pembangunan fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi SD Negeri 2 Tublopo. (gin)
Editor : Inilahkoran

