Krisis Sampah Bandung Raya di Ujung Tanduk, Pemprov Jabar Mengandalkan RDF

TPPAS Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat nyaris kolaps, pembangunan TPPAS Regional Legoknangka Kabupaten Bandung belum juga masuk tahap konstruksi.

Krisis Sampah Bandung Raya di Ujung Tanduk, Pemprov Jabar Mengandalkan RDF
TPPAS Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat nyaris kolaps, pembangunan TPPAS Regional Legoknangka Kabupaten Bandung belum juga masuk tahap konstruksi./istimewa

INILAHKORAN.ID - Bom waktu sampah Bandung Raya kian berdetak. Saat kapasitas TPPAS Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat nyaris kolaps, pembangunan TPPAS Regional Legoknangka Kabupaten Bandung belum juga masuk tahap konstruksi.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini memainkan skema transisi, memperpanjang napas Sarimukti sembari mengebut proses administratif Legoknangka yang digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar, Ai Saadiyah Dwidaningsih memastikan, proyek Legoknangka bergerak ke tahap penting, yakni penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL).

“Kemudian kita tindak lanjuti langsung dengan proses PJBL. Insya Allah nanti PJBL-nya di 10 Maret 2026 akan ditandatangani antara PLN dengan Badan Usaha Pelaksana (BUP) ya, dengan PT Jabar Environmental Solutions (JES),” ujar Ai, Selasa 24 Februari 2026.

PT Jabar Environmental Solutions (JES) merupakan konsorsium, yang melibatkan Sumitomo Corporation dan Hitachi Zosen. Perusahaan ini akan membangun sekaligus mengoperasikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut. Ai menegaskan substansi perjanjian sudah rampung dan tinggal diteken.

“Insya Allah sudah close semua, sudah disepakati poin-poin substansinya. 10 Maret nanti akan sign PJBL-nya dan ada informasi dari Kementerian ESDM ini akan segera dilakukan groundbreaking oleh Pak Presiden. Mudah-mudahan di bulan Maret ini,” ucapnya.

Selepas PJBL, proyek akan masuk tahap financial close antara PLN dan PT JES. Secara normatif, tahap ini bisa memakan waktu hingga sembilan bulan. Namun Pemprov berharap proses tersebut tak molor agar pembangunan fisik bisa dimulai tahun ini.

“Setelah PJBL nanti akan ada proses financial close. Memang ada target waktu tertentu ya, ada 9 bulan kita untuk financial close tapi mudah-mudahan bisa lebih cepat dari itu. Nanti setelah itu ya kita bisa langsung memulai konstruksi,” tuturnya.

Dorongan percepatan datang dari Presiden Prabowo Subianto, yang disebut memberi perhatian serius pada isu penanganan sampah nasional.

“Tahun ini Insya Allah kita bisa konstruksi, groundbreaking dengan ini, karena ada dorongan juga dari Pak Presiden karena kan Danantara juga udah mulai jalan. Jadi Pak Presiden ingin percepatan penanganan sampah,” katanya.

Rencananya kata dia, bila tidak ada aral melintang, groundbreaking akan dilakukan tahun ini.

“Ya sebenarnya bukan masalah ceremonial groundbreaking-nya tetapi berarti bahwa infrastruktur, pembangunan, konstruksinya kita semua mulai di tahun ini seperti itu,” ucapnya.

Meski konstruksi bisa dimulai 2026, realitas di lapangan tak bisa diabaikan. Proyek ini diperkirakan baru rampung dua hingga tiga tahun ke depan. Artinya, hingga 2028-2029, Sarimukti tetap menjadi tumpuan utama jutaan warga Bandung Raya.

Dalam situasi serba mepet, Pemprov Jabar menyiapkan strategi teknis, mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF) untuk menekan volume timbunan.

“Kita juga masih terus berpikir ya bagaimana mengelola sampah ini agar transisinya tertangani dan Alhamdulillah kita juga sudah melakukan inisiasi-inisiasi kerja sama ya, salah satunya dengan industri-industri semen, akan kita olah dulu sampah menjadi RDF,” ujarnya.

Sarimukti pun tak serta-merta ditutup. Sebaliknya, fasilitas itu akan tetap beroperasi dengan pendekatan pengolahan lebih intensif.

“Termasuk di Sarimukti salah satunya ada rencana kita kerja sama untuk diolah menjadi RDF gitu. Jadi kan menunggu tiga tahun pembangunan Legoknangka, kita bisa memanjangkan napas Sarimukti lah katakanlah seperti itu,” katanya.

Sebelumnya, kekhawatiran soal jeda waktu antara Sarimukti dan Legoknangka diingatkan Anggota Komisi IV DPRD Jawa Barat, Tedy Rusmawan yang menyebut kondisi Zona V Sarimukti sudah di ambang batas.

“Berdasarkan pemantauan dan laporan yang kami terima hari ini, areanya sudah nyaris penuh serta diperkirakan hanya mampu menerima kiriman kurang lebih satu tahun lagi,” ujar Tedy.

Dengan target operasional Legoknangka pada 2029, terdapat celah waktu tiga hingga empat tahun yang rawan memicu krisis sampah jika tidak dikelola cermat.
Tedy menekankan perubahan perilaku di hulu sebagai kunci.

“Artinya masyarakat didorong disiplin memisahkan sampah sejak dari rumah tangga. Kemudian, pengelolaan sampah organik, limbah organik dikelola secara mandiri di tingkat RT/RW maupun kecamatan agar tidak seluruhnya dikirim ke Sarimukti,” pintanya.

Legoknangka sendiri dibangun di atas lahan 90 hektare dengan kapasitas 1.853-2.131 ton per hari. Fasilitas ini diproyeksikan menampung sampah dari Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang hingga Garut.***


Editor : JakaPermana