Kroasia 1-2 Spanyol: Bravo Merinoi

KEMENANGAN dramatis di markas Kroasia mempertontonkan ketabahan mental serta kekuatan mumpuni dari bangku cadangan Spanyol.

Kroasia 1-2 Spanyol: Bravo Merinoi
NET

Oleh: Bsafaat

Laga di Stadion Poljud, Split, Rabu (7/10) dini hari WIB menjadi pertaruhan harga diri tuan rumah yang sedang terluka. Mereka ingin bangkit usai takluk 0-7 melawan Inggris, beberapa hari sebelumnya.

Mereka bermain seolah hidup mereka dipertaruhkan demi memohon maaf pada ribuan suporter di tribun.

Ketika Ivan Perišic menyambar bola muntah pada menit ke-17 untuk membawa Kroasia unggul, Stadion Poljud meledak dalam euforia.

Gemuruh penonton dan pelukan emosional antar-pemain Kroasia mencerminkan kelegaan yang luar biasa. Mereka berhasil membuktikan bahwa “hati” Kroasia belum mati dan raksasa dunia pun bisa goyah di hadapan tekad mereka.

Di sudut lain lapangan, pertandingan ini menjadi momen mudik yang sangat sentimentil bagi Dani Olmo. Gelandang serang Spanyol ini memulai karier profesionalnya di Kroasia bersama Dinamo Zagreb saat usianya masih 16 tahun.

Sebelum laga dimulai, Olmo kedapatan menyapa staf stadion dan bahkan menjawab pertanyaan jurnalis setempat menggunakan bahasa Kroasia yang fasih.

Keterikatan batin itu menjelma menjadi magis profesional. Melalui visi bermainnya yang tenang di tengah kepungan intimidasi suporter tuan rumah, Olmo mengirimkan assist brilian pada menit ke-61.

Umpan tersebut meretas pertahanan kokoh Kroasia dan menyalakan kembali asa bagi Spanyol.

Namun, cerita terbesar malam itu adalah milik Mikel Merino. Masuk menggantikan Álex Baena di awal babak kedua, Merino menginjak lapangan dengan satu tugas berat: memecah kebuntuan.

Merino bukanlah tipe pemain yang kerap menghiasi berita utama dengan gocekan flamboyan.

Dia adalah pekerja keras di lini tengah. Namun malam itu, instingnya berada di level yang berbeda.

Setelah mencetak gol penyeimbang pada menit ke-61, momen penentu sejatinya lahir dua menit sebelum waktu normal berakhir.

Menerima umpan manis dari Martín Zubimendi, Merino mengontrol bola dengan dingin di dalam kotak penalti, membalikkan badan, dan melepaskan tembakan mendatar yang merobek jala gawang Dominik Livakovic.

Saat bola menyentuh jaring, Merino berlari ke sudut lapangan, merayakan kepahlawanannya di tengah keheningan suporter tuan rumah yang patah hati. Gol tersebut menegaskan perannya sebagai super-sub paling mematikan dalam sejarah modern sepak bola Spanyol.

“Saya masuk dengan sikap sebaik mungkin, meskipun Anda kecewa karena tidak menjadi starter dan ingin bermain lebih banyak.” Namun, Merino tidak ingin kekecewaan pribadi mengganggu kepentingan tim. Dia menegaskan para pemain Spanyol tetap bersatu sebagai sebuah keluarga.

“Tapi tim ini adalah sebuah keluarga dan itu selalu terlihat. Seperti semua pemain yang bermain, saya bisa memberikan kontribusi saya,” tegasnya.

Selalu Yakin Sementara itu hasil ini membuat Pelatih Luis De La Fuente tersenyum melihat semangat juang para pemainnya untuk mengejar ketertinggalan.

De La Fuente bahkan yakin Spanyol tidak akan kalah meski kebobolan duluan.

“Mereka semua fantasttis dan tidak pernah berhenti bertarung. Kadang mereka mengejutkan saya juga - saya yang pertama mengakui itu. Anda bisa lihat bagaimana reaksi mereka di atmosfer seperti ini, kami berhasil menaklukkanya. Di babak kedua, kami tampil lebih baik. Ini kemenangan yang pantas didapat,” ujar De La Fuente di situs resmi UEFA.

“Di babak kedua, kami lebih mengontrol permainan meski Kroasia beberapa kali merepotkan lewat serangan balik. Tapi saya selalu yakin kami bisa membalikkan keadaan.” Spanyol resmi memperpanjang rekor tak terkalahkan mereka menjadi 43 pertandingan di semua kompetisi, sebuah pencapaian kolosal yang lahir dari ketenangan luar biasa ketika berada di bawah tekanan ekstrem. (bsf)


Editor : Inilahkoran