Menjaga Alam lewat Pendidikan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Hutan, sungai, gunung, pesisir, hingga taman nasional bukan sekadar bentang alam. Di tengah ancaman perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, ruang-ruang itu dapat menjadi kelas tempat manusia belajar memahami sekaligus menjaga kehidupan.
Gagasan tersebut mengemuka dalam The 5th International Conference on Tropical Biology (ICTB) 2026. Forum ini mempertemukan peneliti, akademisi, pendidik, pembuat kebijakan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk membicarakan masa depan keanekaragaman hayati di kawasan tropis.
Staf Ahli Bidang Teknologi Pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Moch Abduh, mengatakan keanekaragaman hayati merupakan fondasi kehidupan. Karena itu, kehilangan keanekaragaman hayati, perubahan iklim, degradasi lahan, dan pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan yang tidak mengenal batas negara maupun generasi.
Pendidikan, menurut Abduh, memiliki peran penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Bukan hanya sebagai tempat menyampaikan pengetahuan, tetapi juga ruang untuk membentuk cara berpikir, sikap, serta hubungan manusia dengan lingkungan.
Karena itu, pembelajaran tidak cukup berhenti di dalam kelas. Peserta didik perlu berhadapan langsung dengan lingkungan agar dapat memahami bagaimana sebuah ekosistem bekerja dan mengapa keberadaannya perlu dipertahankan.
“Sebuah sekolah juga tidak terpisah dari lingkungannya. Sebaliknya, lingkungan itu sendiri seharusnya menjadi ruang kelas hidup. Hutan, sungai, gunung, kawasan pesisir, dan taman nasional dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar untuk menghubungkan pengetahuan ilmiah dengan kondisi nyata,” ujar Abduh, seperti dikutip dari ANTARA, Rabu (7/10).
Cara pandang tersebut menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai proses belajar tentang alam, tetapi juga sebagai jalan untuk membangun kepedulian terhadap keberlanjutan.
Namun, menjaga keanekaragaman hayati bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan sendirian. Direktur SEAMEO BIOTROP Edi Santosa menilai tantangan tersebut membutuhkan keterhubungan antara sains, pendidikan, inovasi, kebijakan, dan kolaborasi regional. (gin)
Editor : Inilahkoran

