Sejarah Telah Melukis Senyum Harry Kane

Sejarah Telah Melukis Senyum Harry Kane
Net

HARRY Kane meninggalkan lapangan Stadion Wembley dengan senyum penuh makna.Tepat menit ke-82 saat laga Inggris vs Republik Ceko, seisi stadion bergemuruh memberi penghormatan.

Oleh: Bsafaat

Inggris menjamu Ceko di stadion ikonik, itu Rabu (7/10) dini hari WIB. Bagi sang kapten, malam itu adalah puncak dari sebuah kesetiaan, kerja keras, dan pembuktian yang tak pernah surut.

Pertandingan ke-125 bersama lambang Tiga Singa di dada menempatkan namanya sejajar dengan sang penjaga gawang legendaris, Peter Shilton, sebagai pemilik caps terbanyak dalam sejarah sepak bola Inggris. Namun, bagi Kane, angka bukanlah tujuan utama. Dedikasi di atas lapanganlah yang selalu berbicara.

Sejak peluit pertama dibunyikan, Kane tidak hanya bermain sebagai ujung tombak. Ia bertindak layaknya seorang mentor bagi generasi baru Inggris seperti Morgan Rogers dan Lewis Hall yang malam itu tampil menawan di bawah arahan Thomas Tuchel.

Jiwa kepemimpinannya terlihat jelas pada menit ke- 27. Alih-alih memaksakan diri menembak dari sudut sempit, Kane melepaskan umpan silang tajam nan cerdas yang memaksa bek Ceko, Vladimir Coufal, melakukan kesalahan fatal dan mencetak gol bunuh diri.

Kane tidak merayakannya secara berlebihan; ia justru langsung menghampiri rekan-rekan mudanya, memberikan suntikan semangat agar tetap menjaga fokus.

Momen yang dinantikan publik Wembley akhirnya tiba lima menit sebelum turun minum.

Menerima umpan matang dari Morgan Rogers, Kane dengan ketenangan khas seorang striker kawakan menyontek bola ke dalam jaring gawang.

Senyum lebarnya merekah—sebuah ekspresi kelegaan sekaligus kebahagiaan murni seorang pesepak bola yang mencintai pekerjaannya.

Paruh kedua menjadi panggung penegasan status Kane sebagai salah satu striker terbaik dunia. Pada menit ke-57, ia melompat paling tinggi di tiang jauh, menyambut sepak pojok Lewis Hall dengan sundulan tajam yang mengoyak gawang lawan untuk kedua kalinya.

Gol tersebut menggenapi koleksi internasionalnya menjadi 91 gol, sekaligus menahbiskannya sebagai pemain tertua dalam sejarah Inggris yang mampu mencetak brace (dua gol) dalam dua laga internasional berturutturut— setelah sebelumnya mengobrak-abrik Kroasia 7-0.

Namun, aspek paling menyentuh dari seorang Harry Kane justru lahir setelah pertandingan usai. Ketika lampu stadion mulai meredup dan jurnalis mengerumuninya untuk menanyakan tentang rekor Peter Shilton serta jalannya menuju 100 gol internasional, Kane menjawab dengan ketenangan yang menyentuh hati.

“Ya, ini adalah malam yang sempurna bagi saya pribadi dan juga tim,” ujar Kane emosional kepada BBC Sport.

“Ini adalah pemusatan latihan yang berat, dan sangat menyenangkan bisa mengakhirinya di Wembley.

Malam yang benar-benar membanggakan. Namun, ini semua bukan tentang saya, ini tentang sepak bola fantastis yang kami tunjukkan bersama.” Di usianya yang sudah menginjak 33 tahun, di saat banyak striker mulai melambat atau memilih pensiun dari panggung internasional, Harry Kane justru terlihat semakin menikmati setiap detiknya. (bsf)


Editor : Inilahkoran