Kualitas Udara Cimahi Diangka 80, DLH: 30 Persen Polutan Dihasilkan Kendaraan Roda Dua

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menyoroti kondisi kualitas udara di wilayahnya. Pasalnya, ancaman serius yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor tengah menghantui masyarakat.

Kualitas Udara Cimahi Diangka 80, DLH: 30 Persen Polutan Dihasilkan Kendaraan Roda Dua
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menyoroti kondisi kualitas udara di wilayahnya. Pasalnya, ancaman serius yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor tengah menghantui masyarakat.

INILAHKORAN, Cimahi - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menyoroti kondisi kualitas udara di wilayahnya. Pasalnya, ancaman serius yang dihasilkan dari emisi kendaraan bermotor tengah menghantui masyarakat.

Berdasarkan Air Quality Indeks (AQI), kualitas udara di Kota Cimahi per tanggal 17 Juni 2025 berada di angka 80 atau masuk kategori sedang dengan konsentrasi partikulat (PM 2.5).

Hal ini berarti bahwa kualitas udara masih dalam batas yang dapat diterima dan tidak berbahaya bagi kesehatan kebanyakan orang, tetapi beberapa kelompok sensitif mungkin mengalami dampak kesehatan yang ringan. 

"Data dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikantongi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menunjukkan bahwa penyumbang polusi terbesar di wilayah ini adalah kendaraan bermotor, terutama roda dua," kata Kepala Bidang Penaatan Hukum Lingkungan DLH Cimahi, Ario Wibisono, Selasa, 17 Juni 2025.

Ario menuturkan, jumlah kendaraan roda dua di Jawa Barat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) sepanjang tahun 2024 sebanyak 14.119.518 unit.

“Jumlah roda dua di Jawa Barat itu luar biasa. Nah ini yang belum bisa dijangkau oleh uji emisi kita. Karena ketentuannya untuk uji emisi roda dua ini saya belum terima detailnya," tuturnya. 

"Makanya kita lakukan kemarin uji emisi untuk kendaraan roda empat atau lebih dulu,” sambungnya.

Menurut Ario, langkah uji emisi ini penting sebagai bentuk kesadaran bersama. Semestinya, setiap pemilik kendaraan wajib memastikan kendaraannya terawat dengan baik. 

"Perawatan rutin bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga berkaitan langsung dengan kadar emisi gas buang yang dihasilkan. Kalau kendaraan terawat dengan baik, emisi gas buangnya pasti sesuai dengan baku mutu yang ditetapkan,” ujarnya.

Ario menyebut, DLH Kota Cimahi telah melaksanakan uji emisi selama tiga hari berturut-turut terhadap kendaraan roda empat, baik berbahan bakar bensin maupun solar, untuk mendapatkan gambaran awal.

“Tapi yang menarik, data dari Pemprov Jabar menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen polutan dari kendaraan bermotor itu sumbernya dari kendaraan roda dua,” sebutnya.

Tak cuma itu, Ario juga menyoroti permasalahan polusi udara di Cimahi tak bisa dilihat secara lokal saja. Pasalnya, kota ini berada di kawasan Cekungan Bandung atau Bandung Raya, yang menjadikan kualitas udara antarwilayah saling memengaruhi.

“Kadang di Cimahi penyebab polusinya rendah, industrinya sedikit, jumlah kendaraannya sedikit. Namun kalau di Bandung atau Bandung Barat tinggi, ya imbasnya Cimahi tetap kena,” bebernya.

Selain itu, Ario juga menyoroti keberadaan aplikasi pemantau kualitas udara yang berbasis data satelit cuaca. Dia menilai, plikasi tersebut menyajikan gambaran umum wilayah, bukan data spesifik secara administratif.

“Saya tidak bilang kurang akurat atau tidak bisa menggambarkan kualitas udara secara keseluruhan di Kota Cimahi. Namun kenyataannya memang data yang ditampilkan aplikasi itu bersifat umum,” bebernya.

Dalam penelusuran terakhir, lanjut Ario, kondisi udara Cimahi masih tergolong baik. Namun, ia mengakui adanya peningkatan indikator polutan, terutama saat jam sibuk di siang hari atau ketika berada di titik-titik keramaian dan jalur lalu lintas utama.

“Kalau saya tidak salah, kualitas udaranya masih baik tapi agak berisiko untuk kelompok sensitif. Dan biasanya kalau siang hari atau jam sibuk memang seperti itu. Apalagi kalau kita berada di kawasan keramaian atau pinggir jalan raya,” tandasnya. ***


Editor : JakaPermana