Langit Garut Merajut Persahabatan Dunia

ANGIN Papandayan menerbangkan layang-layang dari berbagai negara. Persahabatan pun tumbuh di bawah langit yang sama.

Langit Garut Merajut Persahabatan Dunia
FESTIVAL LAYANGAN: Sejumlah pelayang menerbangkan layang-layang dalam "Garut International Kite Festival" 2026 di kawasan Tepas Papandayan, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (1/8).

Langit biru di kaki Gunung Papandayan berubah menjadi panggung raksasa. Angin yang berembus lembut membawa puluhan layang-layang menari bebas, menghadirkan warna-warni dari berbagai penjuru dunia di atas perbukitan Desa Karamatwangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut.

Selama lima hari, sejak 29 Juli hingga 2 Agustus 2026, kawasan Tepas Papandayan menjadi titik temu para pelayang dari berbagai provinsi di Indonesia serta 12 negara di Asia dan Eropa. 

Naga raksasa, tokoh wayang, karakter film kartun, hingga layang-layang tradisional bergantian menguasai langit, disambut sorak kagum para pengunjung yang memadati arena festival.

Namun, yang diterbangkan bukan hanya layang-layang. Di langit yang sama, para peserta juga menerbangkan persahabatan, kebersamaan, dan pesan damai tanpa memandang perbedaan bahasa, budaya, maupun negara asal.

Pelayang dari Indonesia berkumpul bersama peserta dari Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Jepang, China, Korea Selatan, Swiss, Swedia, Italia, Belgia, dan Prancis. Masing-masing membawa karya terbaik sekaligus cerita dari tanah kelahirannya.

Presiden Majlis Pelayang Malaysia, Datuk A. Rahim Nin, mengaku festival itu memiliki makna jauh melampaui sekadar hobi menerbangkan layang-layang.

"Layangan ini bukan saja untuk hobi. Dia dapat mempererat budaya, malahan antara kita dapat bertemu, main layang-layang di bawah satu langit. Kita dapat berinteraksi antara negara," kata Datuk A Rahim di arena Festival Layang-Layang di Garut, seperti dikutip dari ANTARA, Senin (3/8).

Baginya, langit Garut menjadi ruang yang mempertemukan banyak bangsa dalam suasana penuh keakraban. Udara pegunungan yang sejuk dan sambutan hangat masyarakat membuat rombongan pelayang dari Malaysia merasa nyaman selama berada di Garut.

"Sungguh cantik, dan mereka merasa aman, dan merasa tenang berada di sini, dapat bermain layang-layang dengan cuaca yang segar, dingin," katanya.

Keakraban juga terlihat di antara warga lokal dan tamu mancanegara. Banyak pengunjung mendekati para pelayang asing, berbincang dengan bahasa isyarat, lalu mengabadikan momen bersama. Perbedaan bahasa tak menjadi penghalang untuk saling mengenal.

Kusuma (39), warga Garut, mengaku sengaja mengajak anaknya menyaksikan festival itu. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi cara sederhana mengenalkan keberagaman kepada buah hatinya.

"Ini luar biasa, kegiatan yang bisa menyatukan berbagai bangsa, berkumpul bersama untuk bermain layang-layang. Selama kegiatan ini mereka ceria, begitu juga saya sama anak, senang melihatnya," katanya.

Bagi Kusuma, festival itu bukan sekadar tontonan. Anak-anak dapat belajar bahwa dunia dihuni oleh manusia dengan bahasa, warna kulit, dan budaya yang berbeda, tetapi tetap bisa bermain dan bergembira bersama.

Pesan serupa disampaikan Bupati Garut Abdusy Syakur Amin. Menurutnya, Festival Layang-Layang Internasional menjadi simbol bahwa semua manusia hidup di bawah langit yang sama sehingga perdamaian harus terus dijaga.

"Kita menerbangkan layang di satu langit yang sama. Di langit yang sama itu, kan, kita hidup. Orang Malaysia, orang Indonesia, Prancis, Belga, itu hidup di dunia yang sama, harus dijaga, harus harmonis," kata Bupati.

Selain membawa pesan perdamaian, festival ini juga menjadi jalan memperkenalkan Garut kepada dunia. Kehadiran peserta internasional diharapkan membuat nama Garut semakin dikenal sebagai daerah wisata yang memiliki keindahan alam, budaya, dan keramahan masyarakat.

"Yang pasti juga lebih mengenalkan lagi Garut kepada komunitas internasional," kata Bupati. (gin)


Editor : Inilahkoran