Lens on Beauty, Mengungkap Sisi Lain ASN Cimahi Dibalik Bidikan Lensa
Disbudparpora Cimahi memamerkan 30 karya fotografi ASN bertema Citra Positif Birokrasi dan Lens on Beauty, mengangkat sisi humanis pelayanan publik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Birokrasi kerap kali hanya dipandang dari sisi prosedur dan aturan, padahal di balik meja kerja dan seragam dinas, ada kisah kemanusiaan yang tak terhitung jumlahnya setiap hari terjadi.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Cimahi kini membuka jendela baru untuk masyarakat yang ingin melihat wajah lain dari aparatur negara, bukan sekadar sebagai pelaksana kebijakan, namun manusia yang melayani sesama manusia.
Melalui sebuah pameran fotografi bertemakan 'Citra Positif Birokrasi dan Lens on Beauty', puluhan karya jepretan kamera para Aparatur Sipil Negara (ASN) dipajang untuk menceritakan kisah-kisah layanan publik yang jarang terekspos.
Yang paling mengesankan bukanlah kemegahan pamerannya, namun bagaimana pameran ini terwujud. Tanpa anggaran khusus yang dialokasikan, tanpa biaya sewa gedung mewah, dan bahkan bingkai foto yang digunakan pun merupakan daur ulang dari kayu bekas yang dimanfaatkan kembali.
Keterbatasan yang seharusnya menjadi penghalang justru berubah menjadi bukti kreativitas tak melulu berbanding lurus dengan besarnya dana.
Semangat dan ketulusan ternyata mampu menyatukan puluhan ASN dari berbagai perangkat daerah untuk berkarya bersama, membuktikan bahwa birokrasi pun bisa berdaya dan berkreasi meski dalam kondisi yang sederhana.
Kepala Disbudparpora Kota Cimahi, Dani Bastian menjelaskan, kegiatan ini lahir dari keinginan untuk menampilkan sisi yang kerap terlupakan, yakni sisi humanis, profesional dan responsif dari para ASN saat mereka berinteraksi dengan warga.
"Tak sekadar pameran biasa, kegiatan ini sekaligus menjadi ajang pengembangan potensi ekonomi kreatif di bidang fotografi di lingkungan pemerintahan, serta bentuk penghargaan tulus bagi para abdi negara yang ternyata menyimpan bakat seni yang luar biasa di sela kesibukan tugas harian merek," kata Dani, Kamis (22/10/2026).
Dani menuturkan, seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang secara bertahap dan terukur, mulai dari pendaftaran peserta dibuka pada 14-30 September, dilanjutkan dengan pengumpulan karya pada 1-15 Oktober, lalu proses penilaian yang ketat oleh dewan juri pada 16-17 Oktober.
"Dari sekian banyak karya yang masuk, sebanyak 30 karya terbaik akhirnya terpilih dan diumumkan pada 18 Oktober untuk kemudian ditampilkan dalam pameran ini," tuturnya.
Lebih jauh Dani mengungkapkan, penilaian karya tidak dilakukan secara sembarangan. Ia menyebut, ada tiga juri profesional dilibatkan langsung dalam proses kurasi yang difasilitasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf), serta IES Studio Cimahi.
"Karya-karya tersebut dinilai berdasarkan empat aspek utama, seperti kreativitas dan kebaruan sudut pandang, inovasi dalam penangkapan momen, komposisi visual dan kualitas teknis, serta yang terpenting, kemampuan foto tersebut dalam menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan yang tercermin dari pelayanan kepada masyarakat," ungkapnya.
Dikatakan Dani, foto-foto yang dipajang pun tidak berisi gambar-gambar formal semata, melainkan potret kehidupan nyata di lapangan. Ada foto petugas yang membantu warga dalam distribusi pangan, ada jepretan tenaga kesehatan yang sedang memberikan pelayanan medis dengan sabar, hingga momen-momen hangat saat petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil melayani warga yang datang mengurus dokumen penting.
"Semua itu menggambarkan bahwa pelayanan publik bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan sebuah interaksi yang penuh makna," sebutnya.
Sementara terkait tema Lens on Beauty, Dani menjelaskan, tidak dimaksudkan untuk sekadar menampilkan keindahan visual dalam artian estetika gambar semata.
Lebih dari itu, tema ini mengajak setiap penonton untuk melihat keindahan yang tersembunyi di balik tugas-tugas rutin ASN, seperti keindahan ketulusan, keindahan kesabaran dan keindahan pengabdian.
"Lewat lensa kamera yang mereka pegang, para ASN seolah ingin berpesan bahwa di balik setiap stempel, tanda tangan dan prosedur, ada hati yang bekerja melayani sesama warga negara," paparnya.
Untuk memberikan apresiasi yang layak, terang Dani, pihaknya telah menyiapkan tiga kategori penghargaan yang berbeda, antara lain Kategori Best Composition diberikan bagi karya dengan tata letak dan pencahayaan yang paling artistik.
"Best Human Interest dianugerahkan kepada foto yang paling kuat menangkap interaksi emosional dan kemanusiaan antara petugas dan masyarakat," katanya.
"Sedangkan Best Visual Storytelling menjadi penghargaan tertinggi bagi karya yang mampu menyampaikan pesan dan kisah pelayanan secara utuh, mendalam, dan menginspirasi hanya melalui satu bingkai gambar," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti
