Leuhang Cisondari, Terapi Tradisional Sunda yang Masih Bertahan di Bandung

Leuhang Cisondari merupakan terapi tradisional Sunda yang masih dipertahankan Uwa Leuhang sejak 2012 dengan rebusan daun dan rempah alami.

Leuhang Cisondari, Terapi Tradisional Sunda yang Masih Bertahan di Bandung
Leuhang Cisondari merupakan terapi tradisional Sunda yang masih dipertahankan Uwa Leuhang sejak 2012 dengan rebusan daun dan rempah alami.

INILAHKORAN.ID-Uap panas mengepul dari sebuah kotak kayu. Aroma sereh, daun salam, pandan, sirih hingga kayu manis memenuhi ruangan.

Perlahan, keringat mulai membasahi tubuh.

Bukan sauna modern. Bukan pula spa mewah.

Ini adalah leuhang, terapi tradisional Sunda yang hingga kini masih bertahan di Kampung Cisondari, Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Di tengah gempuran tempat spa dan sauna modern yang menawarkan beragam fasilitas, tradisi sederhana ini justru masih dicari masyarakat.

Kotak kayu menjadi ruang terapi. Air rebusan daun dan rempah menjadi sumber uap. Tak ada mesin canggih, tak ada aroma sintetis. Semuanya mengandalkan bahan-bahan alami yang sejak dahulu dikenal masyarakat Sunda.

Di balik tradisi yang nyaris terlupakan tersebut, ada sosok Yayan Nuryana alias Uwa Leuhang.

Sejak 2012, Uwa mempertahankan rumah terapi leuhang miliknya. Empat kotak terapi tersedia bagi siapa saja yang ingin merasakan sensasi penguapan tradisional tersebut.

"Mirip sauna, tapi kita pakai rebusan daun-daunan dan rempah. Uapnya dihirup, badan jadi hangat, keringat keluar, racun ikut kebuang," kata Uwa, Rabu (2/9/2026).

Leuhang Mengandalkan Daun dan Rempah

Proses leuhang terbilang sederhana.

Aneka daun dan rempah direbus hingga menghasilkan uap. Uap panas tersebut kemudian dialirkan ke dalam kotak kayu.

Pengunjung duduk di dalam kotak, sementara bagian kepala tetap berada di luar. Sekitar 15 hingga 20 menit kemudian, tubuh biasanya mulai berkeringat.

Bagi masyarakat yang masih mempertahankan tradisi ini, leuhang dipercaya memberikan sensasi tubuh lebih hangat dan ringan.

Sejak dahulu, leuhang juga kerap digunakan sebagai ikhtiar tradisional untuk mengatasi berbagai keluhan seperti masuk angin, pegal-pegal, gejala flu hingga rematik.

Namun, manfaat tersebut merupakan bagian dari kepercayaan dan pengalaman pengguna. Leuhang bukan pengganti pemeriksaan maupun pengobatan medis.

Pelanggan Datang dari Berbagai Daerah

Menariknya, pelanggan Uwa Leuhang tidak hanya berasal dari kampung sekitar Cisondari.

Mereka datang dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi hingga Cirebon.

Menurut Uwa, sejumlah pejabat dan anggota dewan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bandung juga menjadi pelanggan yang rutin datang.

"Alhamdulillah banyak yang mengaku badannya jadi ringan. Yang tadinya masuk angin dan sakit badan jadi sembuh," ujarnya.

Bagi para pelanggan, pengalaman menikmati uap dari rebusan daun dan rempah menjadi salah satu alasan mereka kembali datang.

Suasana sederhana dan metode tradisional menjadi pembeda leuhang dibandingkan sauna modern.

Tak Ada Tarif, Bayar Seikhlasnya

Ada satu hal yang membuat leuhang di Cisondari semakin menarik.

Tidak ada tarif khusus yang dipatok Uwa kepada para pengunjung.

Mereka cukup membayar seikhlasnya.

Bagi Uwa, mempertahankan leuhang bukan semata-mata tentang mencari penghasilan. Ada tradisi leluhur yang ingin terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.

Sebab, semakin modern kehidupan masyarakat, semakin sedikit pula generasi yang mengenal cara-cara pengobatan tradisional seperti leuhang.

Di perkotaan, tradisi ini nyaris tak terdengar. Bahkan di sejumlah kampung, praktik leuhang perlahan ikut menghilang.

Padahal, bagi masyarakat Sunda, leuhang merupakan bagian dari pengetahuan tradisional dalam memanfaatkan tanaman dan rempah yang tumbuh di sekitar lingkungan mereka.

"Pokoknya banyak sekali manfaatnya bagi tubuh. Sayang kalau sampai hilang," kata Uwa.

Menjaga tradisi Sunda dari Kepunahan

Bagi Uwa Leuhang, mempertahankan praktik tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga warisan leluhur.

Di tengah perubahan gaya hidup dan hadirnya berbagai metode relaksasi modern, leuhang tetap bertahan dengan cara yang sederhana.

Tidak membutuhkan peralatan berteknologi tinggi. Cukup kotak kayu, air rebusan, serta daun dan rempah yang telah digunakan secara turun-temurun.

Barangkali bagi sebagian orang, leuhang hanyalah duduk di dalam kotak kayu sambil berkeringat.

Tetapi bagi Uwa, setiap kepulan uap yang keluar dari rebusan daun dan rempah adalah bagian dari cerita panjang sebuah tradisi.

Tradisi yang sederhana.

Tradisi yang mulai langka.

Dan tradisi yang sampai hari ini masih mengepul di Cisondari.


Editor : JakaPermana