IAPE 2026 Bandung Bidik Peluang Baru Industri Apparel di Tengah Perlambatan Tekstil

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat masih menghadapi tekanan persaingan global.

IAPE 2026 Bandung Bidik Peluang Baru Industri Apparel di Tengah Perlambatan Tekstil
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat masih menghadapi tekanan persaingan global.

INILAHKORAN.ID-industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat masih menghadapi tekanan persaingan global. Namun, di tengah perlambatan tersebut, bisnis custom printing dan print on demand justru dinilai menjadi ceruk pasar yang potensial bagi pelaku usaha kecil dan menengah.

Peluang itu menjadi salah satu fokus Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026, yang digelar di Bandung Convention Centre, pada 2-5 September 2026.

Memasuki penyelenggaraan ke-11 sejak pertama kali digelar pada 2014, IAPE kembali mempertemukan pelaku industri dengan produsen dan distributor teknologi pendukung produksi serta dekorasi pakaian.

Beragam teknologi dipamerkan, mulai dari mesin sablon, jahit, bordir, DTG, DTF, cutting, heat press, hingga mesin digital printing seperti ultraviolet (UV) dan sublimasi.

Project Manager Moremedia Indonesia, Bryan W Arsaha mengatakan, tingginya permintaan terhadap teknologi apparel di Bandung menunjukkan masih besarnya pasar industri tersebut.

“Ini secara rutin memang dari perusahaan-perusahaan mengikuti secara berkala. Kalau demand-nya untuk yang di Bandung ini cukup tinggi, jadi biasanya setelah pameran ini langsung pada booking untuk pameran,” ujar Bryan saat ditemui di pembukaan IAPE 2026 di Bandung Convention Centre, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, Jawa Barat memiliki basis industri tekstil yang kuat. Sejumlah perusahaan besar bahkan telah menembus pasar ekspor. Kendati demikian, industri TPT nasional harus berhadapan dengan negara-negara produsen yang mampu menawarkan biaya produksi lebih kompetitif.

“Kalau tekstil itu banyak ya perusahaan-perusahaan besar di Jawa Barat ini yang sudah bahkan skalanya ekspor gitu. Cuman memang tantangannya beberapa negara itu memberikan harga yang kompetitif untuk produksi, seperti kita ketahui bersama Vietnam, Bangladesh,” katanya.

Bryan menilai, efisiensi biaya produksi menjadi kunci agar industri tekstil dan apparel nasional mampu mempertahankan daya saing.

“Tantangannya bagaimana untuk produksi cost-nya bisa lebih rendah dan produk-produknya supaya lebih bisa diterima, kalau dari segi industri tekstilnya,” ujarnya.

Custom Printing Jadi Celah Pasar

Di tengah persaingan industri skala besar, peluang justru terbuka lebar pada segmen usaha menengah dan kecil. Perubahan perilaku konsumen mendorong permintaan produk pakaian yang lebih personal, fleksibel, dan dapat diproduksi dalam jumlah terbatas.

“Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah permintaan berbasis print on demand, custom printing. Itu yang sekarang baru tren, yang kalau di dunia fashion itu fast fashion,” kata Bryan.

Menurutnya, fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya kebutuhan pakaian khusus untuk kegiatan olahraga dan komunitas.

“Jersey kadang-kadang cuman dipakai pas running terus udah. Nah, itu yang sekarang baru tinggi sekali demand-nya. Setiap event running kostum jersey-nya baru, tiap event komunitas riders punya kostumnya masing-masing. Nah, itu demand-nya sangat tinggi,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat teknologi produksi dalam skala kecil menjadi semakin relevan. Pelaku usaha tidak lagi harus mengandalkan produksi dalam jumlah besar untuk mendapatkan pasar.

IAPE 2026 pun diarahkan menjadi ruang bagi pelaku usaha, untuk memperbarui teknologi sekaligus membaca perubahan kebutuhan pasar.

Teknologi Cetak Langsung ke Kain Mulai Dilirik

Bryan menyebut, perkembangan teknologi menjadi salah satu pembeda IAPE 2026. Salah satu yang mulai mendapatkan perhatian adalah teknologi direct to garment (DTG), serta mesin yang mampu mencetak langsung pada lembaran kain dalam skala lebih besar.

“Kalau tahun ini yang secara spesifik mungkin di teknologinya ya. DTG sekarang mulai naik lagi sama yang langsung ke tekstil, yang versi skala besarnya. Itu yang sekarang baru banyak peminatnya, baru banyak mesin-mesinnya yang dijual,” lanjut Bryan.

Ia juga melihat peluang pengembangan usaha printing berbasis wilayah. Konsep tersebut memungkinkan kebutuhan pakaian dan produk cetak di tingkat kecamatan atau desa dipenuhi oleh pelaku usaha setempat.

“Bagaimana untuk menciptakan usaha-usaha yang ada di jadi satu kecamatan atau satu desa itu bisa memenuhi kebutuhannya sendiri,” ujarnya.

Bryan mencontohkan kebutuhan seragam, pakaian kegiatan, dan berbagai produk cetak dari sekolah-sekolah di satu kecamatan yang dapat dilayani oleh satu unit usaha printing lokal.

“Misal ada sekolah berapa di satu kecamatan, ada satu printing yang saya baru kepikiran semacam Kopdes-nya atau SPPG-nya tapi versi printing untuk memenuhi kebutuhannya,” katanya.

Menurutnya, model tersebut lebih realistis dikembangkan jika disertai dukungan pemerintah melalui peningkatan keterampilan dan pelatihan.

“Saya pikir itu lebih riil bisa direalisasikan, cuman skalanya mungkin satu kecamatan. Harapannya kalau dari dukungan pemerintah itu memberikan fasilitasinya lebih ke bagaimana pelatihan-pelatihan,” ucap Bryan.

Pertumbuhan Printing Hanya 3-4 Persen

Sementara itu, Ketua KOPI Grafika, Usman Batubara mengakui, kondisi industri tekstil dan printing saat ini belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, industri masih mencatat pertumbuhan, tetapi lajunya melambat.

“Peningkatannya itu ya memang tidak dalam kondisi baik-baik saja, tapi pertumbuhan itu memang melambat. Paling mungkin ada sekitar 3-4 persen aja pertambahan untuk printing ya, untuk kebutuhan printing,” kata Usman.

Kondisi tersebut menjadi tantangan, sekaligus peluang bagi industri apparel. Ketika produksi massal menghadapi tekanan biaya dan persaingan harga, teknologi digital membuka ruang bagi model bisnis yang lebih fleksibel, termasuk produksi satuan dan pesanan khusus.

IAPE 2026 diharapkan menjadi jembatan antara perkembangan teknologi, dengan kebutuhan pelaku usaha apparel di Jawa Barat dan nasional.

Pameran yang diselenggarakan Moremedia dengan dukungan BPD API Jawa Barat, DPD PPGI Jawa Barat, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat, serta Komunitas Sablon Jawa Barat itu diikuti 20 perusahaan nasional dengan lebih dari 40 merek.

Selain pameran teknologi, IAPE 2026 juga menghadirkan live demo, 10 sesi talkshow Apparel Talk dengan 15 narasumber, serta business matching.

Dengan perkembangan tren custom printing, print on demand, dan produksi skala kecil, Bandung dinilai masih memiliki posisi strategis sebagai salah satu barometer perkembangan industri apparel di Jawa Barat.***


Editor : JakaPermana