Limbah Berakhir, Energi Mengalir

SAMPAH tak lagi sekadar limbah. PSEL Kayumanis disiapkan menjadi solusi energi dan kebersihan kota.

Limbah Berakhir, Energi Mengalir
SAMPAH KOTA: Wali Kota Bogor Dedie A Rachim dan jajaran Pemkot Bogor saat meninjau akses PSEL Kayu Manis, Selasa (21/7). Akses jalan tersebut dibangun untuk mobilitas armada angkutan penyuplai sampah PSEL. Keberadaan PSEL tidak hanya untuk menangani sampah Kota Bogor, tetapi juga menjadi bagian dari solusi persoalan sampah di kawasan yang lebih luas.

Oleh: Rizki Mauludi

Ada harapan baru untuk menghadirkan energi sekaligus menjaga kebersihan lingkungan di balik tumpukan sampah yang selama ini menjadi persoalan kota. 

Pemerintah Kota Bogor mulai menyiapkan akses menuju fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Kayumanis, Kecamatan Tanah Sareal, sebagai bagian dari langkah mengubah wajah pengelolaan sampah.

Wali Kota Bogor Dedie A Rachim meninjau langsung pembangunan akses jalan menuju kawasan PSEL Kayumanis, Selasa (21/7). Jalan tersebut disiapkan untuk mendukung mobilitas armada pengangkut sampah yang nantinya memasok bahan baku ke fasilitas pengolahan.

Menurut Dedie, keberadaan PSEL tidak hanya untuk menangani sampah Kota Bogor, tetapi juga menjadi bagian dari solusi persoalan sampah di kawasan yang lebih luas.

"Ya, ini kan armadanya bisa dari Bogor Kota dan Kabupaten, bisa nanti dari Depok, bisa juga sampah dari kita gali dari mana-mana supaya seluruh Indonesia ini, terutama Jabodetabek ini bersih," kata Dedie.

Berbeda dengan pola pengelolaan sampah lama yang berakhir di tempat pembuangan, PSEL dirancang untuk mengolah sampah menjadi energi listrik. Karena itu, sistem pengangkutan dan pengelolaannya pun akan disesuaikan dengan standar baru.

"Jadi kan nanti akan diatur, kendaraannya pun tentu harus yang bersih, karena bukan lagi paradigma pengelolaan sampah yang lama. Sampah diolah menjadi energi listrik," jelasnya.

Dedie menyebut, teknologi PSEL telah lama diterapkan di berbagai negara maju seperti Eropa, Amerika, Jepang, dan Korea. Indonesia, kata dia, kini mulai mengejar ketertinggalan dalam pengelolaan sampah modern tersebut.

"Tidak ada emisi, tidak ada polusi. Kemudian juga menghasilkan. Insya Allah semuanya baik dengan niat baik dan sudah diterapkan di dunia," ujarnya.

Dia mencontohkan Jepang yang memiliki banyak fasilitas PSEL untuk mengatasi persoalan sampah perkotaan. Bahkan, kawasan Greater Tokyo memiliki puluhan fasilitas serupa untuk menjaga kebersihan wilayahnya.

"Waktu saya ke Jepang, Greater Tokyo saja punya 22 PSEL. Saya sudah ke sana bersama Pak Rudi Mashudi (Kepala Dinas Lingkungan Hidup). Kami baru dua, satu di Galuga dan satu di Kayumanis," kata Dedie.

PSEL Kayumanis nantinya memiliki kapasitas pengolahan sampah mencapai 1.000 ton per hari. Sementara PSEL Galuga diproyeksikan mampu menangani 1.500 ton sampah per hari.

Namun, sebelum sampah masuk ke fasilitas tersebut, Dedie mengingatkan pentingnya peran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebaiknya tidak dibuang, melainkan dimanfaatkan kembali.

"Kesempatan warga untuk memilah sampah dari rumah. Yang dibuang ke sini tuh yang benar-benar sudah enggak punya harga lagi," ujarnya.

Selain menghasilkan energi, sisa pengolahan PSEL berupa Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) juga akan dimanfaatkan kembali. Material tersebut nantinya dapat diolah menjadi berbagai produk konstruksi seperti paving block, road base, hingga kanstin. (gin)


Editor : Inilahkoran