Benang Budaya Merangkai Persahabatan Dua Bangsa
BUDAYA menjadi bahasa yang mampu melampaui batas negara. Dari sanalah persahabatan Indonesia dan Jepang terus dirawat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Perbedaan sering kali dipandang sebagai batas. Namun bagi sekelompok orang dari Indonesia dan Jepang, perbedaan justru menjadi benang-benang yang dapat dirajut menjadi sebuah tenunan yang indah.
Semangat itulah yang dibawa Yayasan Sakuranesia melalui gagasan "Menenun Harmonisasi". Sebuah perjalanan yang tidak hanya mempertemukan dua bangsa, tetapi juga mempertemukan budaya, agama, tradisi, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam satu ruang dialog.
Perjalanan itu dimulai dari tempat-tempat yang sarat makna. Rombongan mengunjungi Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah di Jakarta Selatan, Masjid Istiqlal, hingga mengikuti tradisi Sedekah Bumi dan Jolenan di Desa Kemetul, Kabupaten Semarang.
Langkah mereka kemudian berakhir di Candi Borobudur, warisan dunia yang menjadi simbol peradaban dan toleransi. Founder Yayasan Sakuranesia, Tovic Rustam, mengatakan gagasan "Menenun Harmonisasi" lahir dari keyakinan, keberagaman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan.
"Seperti sebuah tenunan, setiap benang memiliki warna dan karakter yang berbeda. Ketika dirajut dengan rasa saling menghormati, kepercayaan, dan tujuan kemanusiaan yang sama, perbedaan tersebut justru menjadi kekuatan," ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (21/7).
Baginya, hubungan Indonesia dan Jepang tidak hanya dibangun melalui kerja sama ekonomi ataupun teknologi. Persahabatan juga tumbuh dari saling memahami budaya dan menghargai keyakinan satu sama lain.
Pandangan serupa disampaikan Chairman Yayasan Sakuranesia, Sakura Ijuin. Menurutnya, budaya adalah bahasa yang dapat dipahami siapa pun tanpa harus diterjemahkan.
"Perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk saling mengenal, memahami, dan membangun persaudaraan," katanya.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan dari Kuil Mii-dera Jepang yang dipimpin Kepala Kuil ke-164, Toshihiko Fuke, ikut merasakan langsung keberagaman Indonesia.
Di Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, mereka berdialog mengenai toleransi dan kehidupan beragama. Di Masjid Istiqlal, mereka menyaksikan bagaimana rumah ibadah terbesar di Asia Tenggara menjadi simbol keterbukaan. Sementara di Desa Kemetul, mereka larut dalam tradisi Jolenan, sebuah perayaan syukur masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Toshihiko mengaku terkesan melihat masyarakat Indonesia yang tetap menjaga tradisi di tengah perkembangan zaman.
"Kami senang sekali datang ke sini. Di Jepang, tradisi seperti ini juga ada, meskipun bentuknya sedikit berbeda," ujarnya.
Baginya, perdamaian menjadi nilai yang melampaui perbedaan keyakinan.
"Meski Buddha memiliki banyak aliran, ada satu hal yang sama, yaitu perdamaian. Saya mengharapkan perdamaian bagi diri sendiri, bagi kalian semua, dan bagi semua negara," katanya. (gin)
Editor : Inilahkoran

