LPAI Dorong Pemprov Jabar Evaluasi Berkelanjutan Program Pendidikan Karakter
Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap program pendidikan karakter Panca Waluya
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap program pendidikan karakter Panca Waluya.
Seto Mulyadi atau kerap disapa Kak Seto ini menuturkan, kendati pelaksanaan pendidikan karakter Panca Waluya program pertama berjalan lancar, tetap diperlukan evaluasi berkala.
Menurutnya, selama beberapa kali datang dan melihat langsung pendidikan karakter Panca Waluya di Dodik Bela Negara Rindam III/Siliwangi, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, materi yang diberikan sudah cukup baik dan tidak ada pelanggaran HAM.
"Ini adalah salah satu langkah yang sangat gemilang. Bagaimana menyalurkan potensi setiap anak yang pada dasarnya kreatif, energik, penuh dinamika, tapi karena lingkungan tidak kondusif baik di lingkungan rumah, sekolah maupun pergaulan akhirnya menyimpang dan diarahkan dengan tegas secara positif," ujarnya di Gedung Sate baru-baru ini.
Meski demikian, Seto juga tetap mendorong adanya evaluasi berkala, terbuka akan kritik yang membangun hingga melibatkan psikolog guna memastikan anak-anak pada kondisi psikologis yang baik.
Dia juga mendorong para pihak lainnya tidak gengsi untuk meniru program pendidikan karakter dari Jabar ini, termasuk jika program ini diadopsi menjadi suatu gerakan nasional.
"Jadi dalam hal ini kami apresiasi dan tetap harus dievaluasi sampai akhir, beberapa akan kami ikuti, juga ada tim psikolog sehingga kalau nanti hasilnya positif jangan ragu-ragu dan gengsi untuk dijadikan gerakan nasional," imbuhnya.
Bagaimanapun menurutnya, kritik yang membangun tentu sangat diperlukan. Maka itu dirinya mengajak semua unsur untuk dapat bersatu memberikan lingkungan kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak yang hebat.
"Pendidikan formal dan informal dalam keluarga juga perlu dilengkapi dengan pendidikan non formal. Itu bisa saja di Dodik Bela Negara, perpustakaan, sarana gelanggang olahraga mauun sanggar-sanggar seni. Jawa Barat bisa menjadi contoh dan alternatif," terangnya.
Seto mengaku terharu hingga meneteskan air mata, kala melihat para siswa barak militer lulus dan bertemu langsung orang tua maupun anggota keluarganya.
"Anak-anak pada dasarnya membutuhkan uluran cinta dari tokoh-tokoh seperti orang tua, guru, pemimpin, pejabat sehingga mereka menjadi bunga yang sangat mekar," sebut Kak Seto.
Sementara Psikolog Klinis Forensik Cassandra Putranto yang turut terlibat dalam pendidikan karakter ini mengatakan, dirinya merupakan saksi dimana sejak awal program ini para peserta sudah menjalani psikotest atau pemeriksaan asesmen klinis awal dan grafologi.
"Kami sudah mengetahui profil psikologis mereka, dan yang jelas bahwa tentu saja program pendek ini sudah dimaksimalkan untuk bisa mencapai adanya perubahan perilaku mungkin. tidak sempurna, tapi kembali lagi bahwa kita lebih baik berada di tempat yang berusaha daripada tidak," katanya.
Disinggung mengenai kemungkinan para alumni ini akan kembali pada sikap awal mereka yang dinilai bermasalah ini, Cassandra mengatakan, hal itu tetap bisa dicegah dengan adanya evaluasi secara berkala dan peran dari orang tua itu sendiri.
"Tergantung sebenarnya, Itu alasannya mengapa orang tua pun harus melanjutkan, dan itu harus ada monitoring, harus ada evaluasi. Yang paling penting adalah bahwa perubahan ini sudah terjadi dan itu harus dilanjutkan," ujarnya.
Sementara Global Expert Grafologis Gusti Ayu Dewi menambahkan, mengenai sikap awal siswa apakah bisa kembali lagi atau tidak, hal itu tergantung dari peran orang tua dan evaluasi dari program ini itu sendiri.
'Kalau tanaman, tanaman sudah bagus, diambil dari potnya, dipindah, tapi tidak disiram akan, mati. Jadi fungsi menyiram itu ada di orang tua, keluarga dan lingkungan," tandasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

