PBNU Dukung Evaluasi Program MBG Usai Kasus Keracunan di Sidoarjo

PBNU mendukung evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah kasus keracunan di Sidoarjo. Gus Kikin menekankan pentingnya integritas pengelola.

PBNU Dukung Evaluasi Program MBG Usai Kasus Keracunan di Sidoarjo
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat ditemui di Jakarta, Sabtu (5/9/2026). ANTARA

INILAHKORAN.ID - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mendukung evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar pengelolaannya semakin berintegritas.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Kikin menyusul kasus dugaan keracunan MBG yang terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, dan menyebabkan sejumlah santri menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurut Gus Kikin, integritas dan tanggung jawab seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan MBG menjadi hal penting untuk mencegah kasus serupa kembali terjadi.

"Integritas lah, kalau semuanya bertanggung jawab terhadap kegiatan dan pekerjaannya, ya mudah-mudahan enggak terjadi (terulang kembali kasus keracunan MBG). Integritas itu lah, kita masing-masing itu harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatannya, tanggung jawab terhadap aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kegiatan masing-masing," ujar Gus Kikin seperti dikutip dari Antara, Sabtu (5/9/2026).

Ia menilai kasus keracunan MBG di Sidoarjo merupakan salah satu dari sejumlah kejadian yang perlu menjadi bahan evaluasi. Namun, perbaikan tata kelola tersebut tetap perlu berjalan dengan mempertahankan praktik-praktik baik yang telah diterapkan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Praktik yang dinilai berhasil tersebut, kata dia, dapat diterapkan lebih luas, termasuk di lingkungan pesantren.

"Ya itu kan satu dari sekian banyak (kejadian keracunan MBG), ya kita harus jalan terus karena memang pesantren harus jalan," tuturnya.

Wamenag Minta Kasus keracunan MBG Diinvestigasi

Sementara itu, Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii meminta dugaan keracunan makanan yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, diinvestigasi untuk memastikan penyebabnya.

“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Wamenag dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Wamenag saat menjenguk santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Dalam kunjungannya, terdapat delapan pasien yang masih menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, lima pasien telah diperbolehkan pulang, sedangkan tiga lainnya masih memerlukan perawatan.

Menurut Muhammad Syafii, keluhan yang disampaikan para santri berkaitan dengan gangguan pada perut dan rasa mual. Namun, kondisi mereka secara umum tidak tergolong berat.

“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag.


Editor : Ahmad Sayuti