Melek AI Lawan Hoakz
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Cesar Yudistira
INILAH, Bandung - Tak cukup hanya mampu menggunakan kecerdasan buatan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membedakan fakta dan rekayasa kini menjadi bekal yang sama pentingnya bagi generasi muda.
Kesadaran itulah yang mendorong Polda Jawa Barat menyiapkan ratusan personelnya untuk menjadi duta literasi digital. Selama dua hari, mulai Kamis (30/7) hingga Jumat (31/7), mereka mengikuti pelatihan artificial intelligence (AI) sebelum diterjunkan ke sekolah-sekolah dan masyarakat.
Bukan untuk mengajarkan cara membuat teknologi canggih, melainkan membekali pelajar agar mampu mengenali hoaks, deepfake, penipuan arisan daring, love scamming, hingga berbagai modus kejahatan digital yang semakin marak.
Kabag Binkar Polda Jabar, AKBP Condro Sasongko, mengatakan peserta pelatihan berasal dari Polda Jabar beserta seluruh jajaran di wilayahnya. Setelah pelatihan selesai, mereka akan menjadi pengajar di sekolah-sekolah maupun komunitas masyarakat.
"Pesertanya dari Polda Jawa Barat dan jajaran. Mereka akan memberikan edukasi ke sekolah-sekolah, untuk mengajarkan bagaimana memanfaatkan AI dan digital. Rekan-rekan di jajaran juga bisa meneruskan ke masyarakat, gen Z, juga ke pelajar," ujar Condro, Kamis (30/7).
Program tersebut menargetkan sekitar 37 ribu hingga 40 ribu pelajar dan masyarakat di Jawa Barat memperoleh pelatihan literasi AI. Dalam skala nasional, Polri bahkan menargetkan 10 juta pelajar SMA sederajat mendapat edukasi serupa.
Menurut Condro, kehadiran AI membawa manfaat besar, tetapi juga membuka ruang baru bagi berbagai bentuk kejahatan digital. Karena itu, personel Polri diharapkan mampu menjadi pembimbing sekaligus penjaga agar pemanfaatan AI tetap berada pada jalur yang bertanggung jawab.
"Melek AI berarti kerja lebih cerdas, respons lebih cepat, harkamtibmas lebih terjaga dengan baik. Tentunya ini sesuai dengan visi misi Pak Kapolda, yakni Jaga Rawat Jawa Barat," jelasnya.
Dia menilai masih banyak pelajar maupun masyarakat yang menjadi korban penyalahgunaan AI. Modus seperti deepfake dan konten provokatif yang dihasilkan kecerdasan buatan semakin sulit dikenali apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan literasi digital yang memadai.
Karena itu, peserta pelatihan nantinya didorong untuk membiasakan budaya memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai ataupun menyebarkannya, sebagaimana praktik fact-checking yang dilakukan media arus utama.
"Kejahatan digital menggunakan AI saat ini masih berupa gunung es. Melek AI bukan sekadar bisa menggunakan teknologi, melainkan sebuah kemampuan komprehensif. AI membantu manusia berfikir lebih cepat, manusia tetap memegang kendali, pertimbangan dan tanggung jawab," ucapnya.
Condro berharap generasi muda dapat menjadi garda terdepan dalam melawan penyebaran hoaks di media sosial. Menurutnya, pelajar saat ini relatif cepat beradaptasi dengan teknologi AI karena banyak yang telah mempelajarinya secara mandiri. (gin)
Editor : Inilahkoran

