Menanti Bulan Puasa Tanpa Banjir, Harapan Warga Cirebon di Tengah Ancaman Hujan
Warga kawasan rawan banjir di Kabupaten Cirebon selalu was was saat memasuki bulan Ramadan berbarengan dengan cuaca hujan terus
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Menjelang datangnya Ramadan, harapan sederhana terucap dari banyak warga Cirebon, yaitu cuaca cerah, hujan mereda, dan banjir tidak kembali datang.
Bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan banjir, Ramadan bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal kecemasan yang berulang setiap musim hujan.
Ali, warga Kecamatan Kesambi Kota Cirebon mengaku waswas, jika curah hujan tetap tinggi selama Ramadan. Rumahnya berada di kawasan rawan banjir, sehingga setiap hujan deras selalu menyisakan kekhawatiran.
"Saya tidak terbayang kalau pas waktu berbuka puasa, tiba-tiba banjir datang. Itu kejadian yang sering kami alami," ujarnya Selasa 17 Februari 2026.
Kekhawatiran serupa dirasakan Warno, warga Kelurahan Ampera yang masih berada di wilayah Kesambi. Selain ancaman banjir, hujan berkepanjangan juga berdampak langsung pada mata pencahariannya sebagai penjual es buah musiman.
"Kalau hujan terus, jelas berpengaruh pada omzet. Orang malas beli es. Tapi yang lebih saya takutkan, banjir datang sewaktu-waktu," katanya.
Harapan akan Ramadan yang tenang juga datang dari wilayah Kabupaten Cirebon. Yanto, warga Sumber, mengaku rasa aman semakin berkurang sejak wilayahnya beberapa kali terdampak banjir akibat kerusakan kawasan Bukit Plangon.
"Tinggal di bawah kaki bukit sekarang rasanya tidak nyaman. Kemarin banjir datang karena imbas bukit yang rusak. Kalau hujan besar lagi, kami takut terulang," ungkapnya.
Kecemasan juga dirasakan Didin, warga Losari. Ia membayangkan betapa repotnya jika banjir datang saat waktu berbuka puasa atau menjelang sahur.
"Sudah capek puasa, masih harus beresin rumah karena banjir. Itu yang kami takutkan," akunya.
Harapan warga tersebut memang wajar. Hal itu karena beberapa waktu lalu Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda merilis, memasuki awal Februari 2026 hingga sekitar minggu ketiga, potensi cuaca ekstrem kembali meningkat. Masyarakatpun harus kembali waspada,
Ia menjelaskan, setelah fase cuaca ekstrem tersebut, Kabupaten Cirebon biasanya memasuki masa pancaroba. Pada periode ini, ancaman angin kencang hingga puting beliung kerap muncul dan dapat berlangsung hingga Mei. Kondisi ini sering dikenal sebagai kemarau basah, terlebih jika tidak dipengaruhi siklon besar.
Menurutnya, letak geografis Kabupaten Cirebon yang strategis di pesisir utara Jawa Barat menjadi salah satu faktor utama kerentanan bencana. Dengan garis pantai sepanjang kurang lebih 54 kilometer dan luas wilayah mencapai 990,36 kilometer persegi, Cirebon menaungi 40 kecamatan, 412 desa, dan 12 kelurahan.
Untuk itu, cakupan wilayah yang luas itu membuat potensi bencana alam selalu menjadi perhatian serius. BPBD Kabupaten Cirebon mencatat sedikitnya sembilan potensi bencana yang harus diwaspadai, mulai dari banjir, tanah longsor, rob, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, letusan Gunung Ciremai, banjir bandang, hingga gempa bumi.
Di tengah harapan warga tersebut, BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca. Berdasarkan prakiraan cuaca tiga hari ke depan, mulai 17 hingga 19 Februari 2026, sejumlah wilayah di Jawa Barat, termasuk Kabupaten dan Kota Cirebon, berpotensi mengalami hujan yang dapat disertai kilat, petir, dan angin kencang, Ini terjadi terutama pada siang hingga menjelang malam hari.
Peringatan tersebut menjadi pengingat bahwa kewaspadaan tetap diperlukan. Bagi warga Cirebon, Ramadan kali ini bukan hanya dinanti dengan persiapan ibadah, tetapi juga dengan doa agar hujan tak lagi membawa banjir, sehingga bulan suci dapat dijalani dengan tenang, aman, dan khusyuk.
Editor : Ahmad Sayuti


