Menanti Rumah di Ujung Masa Pemulihan
BENCANA itu terjadi dalam hitungan menit. Namun, bagi warga Desa Pasirlangu, pemulihan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Agus Satia Negara
Tak semua luka meninggalkan bekas pada tubuh. Asep (37) merasakannya setiap kali memandang kebun yang masih tertimbun tanah dan batu.
Longsor memang telah lama berhenti bergerak. Namun dampaknya masih mengendap dalam kehidupan warga Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Sebagian lahan belum bisa digarap, sebagian rumah masih kosong. Lebih dari itu, sebagian keluarga juga masih menunggu waktu yang tepat untuk pulang.
Bagi Asep, perubahan memang mulai terlihat. Aliran air yang sempat tersumbat material longsoran kini telah kembali normal. Ancaman material yang terbawa dari lereng Gunung Burangrang pun tak lagi menghantui aktivitas perkebunan di sekitarnya.
“Aliran air yang dulunya sempat terganggu dan membawa material dari lereng Gunung Burangrang kini sudah berjalan normal, sehingga tidak lagi mengancam aktivitas perkebunan warga di sekitarnya,” kata Asep.
Namun, pemulihan itu belum sepenuhnya mengembalikan kehidupan warga. Sebagian besar lahan produktif masih tertutup timbunan tanah dan bongkahan batu sehingga belum dapat diolah kembali. Akibatnya, banyak warga masih kehilangan sumber penghasilan yang selama ini bergantung pada hasil perkebunan.
“Selain masalah lahan, pemulihan kondisi sosial dan ekonomi warga juga menjadi perhatian utama.Hingga kini masih ada sejumlah keluarga yang belum berani kembali menempati rumah asalnya karena lokasi dinilai belum sepenuhnya aman dari ancaman longsor susulan,” katanya.
Sebagian warga pun masih harus menyewa tempat tinggal sementara di luar kawasan terdampak. Mereka memilih bertahan sambil menunggu kepastian dari pemerintah mengenai hunian yang lebih aman dan permanen.
Di tengah kondisi itu, harapan warga sesungguhnya tidak muluk-muluk. Mereka hanya ingin kehidupan kembali berjalan seperti sebelum longsor datang.
“Harapan kami sederhana: bukan hanya lahannya yang bersih dan pulih, tapi kami warga juga bisa segera pulang ke rumah, berkebun, dan beraktivitas seperti sediakala,” ujarnya.
“Masih ada tetangga yang harus membayar uang sewa setiap bulan karena belum boleh kembali. Semoga pemulihan ini segera tuntas dan ada solusi hunian yang pasti bagi kami,” pungkasnya.
Harapan serupa terus diupayakan melalui proses rehabilitasi yang melibatkan pemerintah daerah dan warga.
Kepala Dusun Pasirlangu, Yuda (35), mengatakan penataan kawasan terdampak dilakukan secara gotong royong dengan memanfaatkan bantuan dari pemerintah maupun para donatur.
“Pemerintah bersama kami warga terus berupaya menata kembali lahan yang rusak tertimbun longsor. Bantuan yang mengalir baik dari pemerintah maupun donatur kami manfaatkan sebaik mungkin untuk mempercepat proses ini,” ujar Yuda, Selasa (28/7).
Menurutnya, sebagian besar bantuan digunakan untuk menyewa alat berat karena material longsoran yang menimbun lahan warga tidak mungkin dipindahkan hanya dengan tenaga manusia.
“Bantuan ini sangat berarti bagi kami. Sebagian besar kami gunakan untuk menyewa alat berat, supaya tumpukan tanah dan batu bisa segera disingkirkan, dan lahan warga bisa kembali kami ratakan serta dimanfaatkan,” terangnya.
Selama kurang lebih dua bulan terakhir, tiga unit alat berat telah bekerja secara bertahap di lokasi bencana. Meski demikian, proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.
Di sejumlah titik, bongkahan batu berukuran sangat besar masih menjadi hambatan sehingga membutuhkan penanganan lanjutan dan peralatan khusus.
“Masih ada beberapa area yang butuh penanganan lanjutan dan peralatan khusus, sebelum dipastikan benarbenar aman dan layak untuk dijadikan lahan usaha maupun tempat tinggal kembali,” ucap Yuda.
Bencana Pagi Buta Pagi buta, 24 Januari 2026 menjadi hari yang tak akan dilupakan warga Desa Pasirlangu.
Setelah hujan deras mengguyur kawasan lereng Gunung Burangrang sejak malam sebelumnya, tanah di bagian hulu tiba-tiba runtuh.
Material berupa lumpur, bebatuan, dan pepohonan meluncur deras, menerjang Kampung Pasirkuning dan Kampung Pasirkuda dalam hitungan menit. Rumah-rumah, kebun, hingga akses jalan tertimbun longsoran.
Bencana itu menjadi salah satu longsor paling mematikan di Jawa Barat. Operasi pencarian yang berlangsung selama berminggu-minggu akhirnya mencatat 80 korban meninggal dunia. Sedikitnya 53 rumah tertimbun dan rusak, sementara ratusan warga harus mengungsi meninggalkan kampung halaman mereka.
Di tengah suasana duka, berbagai bantuan berdatangan.
Tim SAR gabungan, TNI, Polri, Basarnas, BPBD, relawan, hingga Kementerian Pekerjaan Umum bahu-membahu membuka akses ke lokasi bencana.
Alat berat didatangkan untuk menyingkirkan material longsoran, sementara pemerintah juga menyediakan fasilitas dasar bagi para penyintas, mulai dari air bersih, toilet portabel, hingga kebutuhan logistik di pengungsian.
Saat meninjau lokasi bencana, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan kawasan yang tertimbun longsor tidak lagi layak dihuni karena berisiko mengalami bencana susulan.
Pemerintah pun menjanjikan relokasi bagi warga terdampak ke lokasi yang lebih aman, disertai percepatan rehabilitasi kawasan, pembersihan material longsoran, serta pemulihan mata pencaharian masyarakat.
Enam bulan berselang, sebagian janji itu mulai diwujudkan.
Alat berat masih bekerja meratakan timbunan tanah, aliran sungai sudah kembali normal, dan kawasan perlahan ditata ulang.
(gin)
Editor : Inilahkoran

