Menapaki Jejak Sejarah Kewedanan Cililin
Cililin merupakan nama salah satu desa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang memiliki cakupan dan ruang lingkup wilayah yang sangat luas.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Cililin merupakan nama salah satu desa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang memiliki cakupan dan ruang lingkup wilayah yang sangat luas.
Pasalnya, hampir sebagian besar wilayah yang ada di Bandung Barat bagian selatan merupakan bagian dari Cililin. Hal itu bisa dilihat dari jejak sejarah Cililin yang dahulu merupakan satu kewedanan yang cakupan wilayahnya meliputi Cihampelas, Sindangkerta, Cipongkor, Gunung Halu dan sekitarnya.
Kewedanan sendiri adalah wilayah administrasi kepemerintahan yang berada di bawah kabupaten dan di atas kecamatan yang berlaku pada masa Hindia Belanda dan beberapa tahun setelah kemerdekaan Indonesia yang dipakai di beberapa provinsi.
Baca Juga: Jelang Porda 2022, Dadang Supriatna Minta PTMSI Gali Atlet Tenis Meja Berprestasi
Hal itu diungkapkan tokoh sekaligus budayawan Cililin Amar Sudarma (86) yang menjadi saksi hidup sejarah Cililin pada masa peralihan penjajahan kolonial Belanda ke Jepang hingga pasca kemerdekaan RI.
Meski berusia senja, Amar nampak segar dan bugar, bahkan mampu mengingat dengan baik setiap cerita awal mula berdirinya Cililin.
Amar menuturkan sejak dahulu dirinya terus menggali setiap bukti sejarah melalui pengalaman pribadi maupun penulusuran literatur, termasuk menemui tokoh sentral dalam Kawedanan Cililin.
Baca Juga: Jelang PTM, Pemkab Bandung Barat Imbau Para Pelaku Transportasi Segera Divaksin
Dalam buku "Lintasan Sejarah Bandung Rungsit (1630-1643) dan Cikal Bakal Kewedanaan Rongga-Cililin (1705-1962)" yang ditulisnya, ia menilai sejarah kewedanaan terbagi pada beberapa bagian.
Amar menuturkan, cikal bakal Kewedanan Cililin dimulai pada masa Bandung Rungsit 1630-1643. Rungsit sendiri memiliki arti atau kacau. Hal ini berkaitan dengan peristiwa kegagalan Adipati Ukur yang bernama asli Wangsa Taruna dalam Perang Batawi pada 1628-1629 atas perintah Sultan Agung Mataram.
“Karena di masa itu berlaku hukuman tugel jangga atauu pancung, Adipati Ukur bersama pasukan sunda tidak mau kembali ke Mataram,” tuturnya, Minggu 12 September 2021.
Pasca peristiwa itu, jelas Amar, Sultan Agung memerintahkan pasukannya untuk memburu Dipati Ukur. Sementara itu, Adipati Ukur tengah bersembunyi di Gunung Lumbung, Batulayang Cililin.
Baca Juga: Tak Mau Kecolongan Wisata Balas Dendam, Pemprov Jabar Gelar Swab Tes Acak di 11 Daerah
“Saat peristiwa itu terjadi, pergolakan lain juga terjadi, yaitu sisa pasukan Sunda dan Mataram terus bergerilya melawan Belanda,” bebernya.
Lantaran tidak adanya Adipati Ukur di Tatar Ukur, Sultan Agung Mataram memutuskan untuk mengangkat Astamanggala yang bergelar Tumenggung Wira Angun-angun sebagai kepala pemerintahan di Tatar Bandung pada 21 April 1643.
“Pasca diangkat, Tumenggung Wira Angun Angun diberi tugas untuk membereskan rungsit di Tatar Bandung yang meliputi Soreang, Lembang, Cimahi, Rende, Majalaya, Ciparay, Banjaran, Kopo, Bandung, Rongga, Cisondari, Cicalengka, Rajamandala dan Ujung Berung,” terangnya.
Kemudian, sambung Amar, sisa daerah yang sangat kacau ialah wilayah situ bendung daru Sanghyang Tikoro sampai Cilokotot Selatan (Cimahi) dan barat daerah Cijerokaso (Soreang).
Baca Juga: Lindungi Pelaku Transportasi dari Covid-19, Dishub KBB Berikan 2.000 Dosis Vaksin Gratis
Amar menyebut, kekacauan tersebut dilakukan Badog Silalawi yang berasal dari Karawang dan bermarkas di Gunung Parang Purwakarta yang tak lain anak buah Kraeng Glesong yang bergerilya merebut kembali daerah VOC mulai Karawang sampai Situ Bendung.
“Menjelang tahun 1600-1645 atau abad ke-17, di bawah Kesultanan Mataram, Tatar Ukur atau Kabupaten (kini) di bawah kepemimpinan Adipati Ukur mempunyai 9 daerah bawahan atau yang disebut Umbul,” terangnya.
9 Umbul tersebut yakni:
- Umbul Batulayang yang meliputi Kawedanan Cililin, Soreang, dan Ciparay. Kepala Umbulnya bernama Singawangsa.
- Umbul Saung Watang, meliputi Kewedanaan Mangunreja Garut. Kepala Umbulnya benama Demang Saungwatang.
- Umbul Taraju, meliputi Kewedanaan Taraju, Salagedang, dan Luragung. Kepala Umbulnya bernama Ngabehi Yudakerta.
- Umbul Kahuripan, meliputi Kota Bandung, Cimahi, Cikalong, Sumedang, dan Purwakarta. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Wirasuta.
- Umbul Medang Sasingar, meliputi Sumedang Utara, Situ Raja, dan Subang. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Arjasuta.
- Umbul Malangbong, meliputi Darmaraja sebelah utara, dan Cibuni sebelah selatan. Kepala Umbulnya bernama Tumenggung Balekembang.
- Umbul Mananggel, meliputi Kewedanaan Leles sampai Galunggung. Kepala Umbulnya bernama Ngabehi Suatabraja.
- Umbul Sagaraherang, meliputi daerah Pamanukan, Ciasem, dan Karawang. Kepala Umbulnya bernama Singaperbangsa.
- Umbul Manabaya, meliputi daerah Cibuni timur sampai Kabupaten Ciamis. Kepala Umbulnya bemama Nagbehi Tanda.
Baca Juga: Horeee.. Pekan Olahraga Kabupaten Garut 2020 Digelar Oktober
Daerah Tatar Ukur pada 1623 merupakan Kabupaten yang terluas di Tatar Sunda, kepala tanah Tatar Ukur dijuluki lulurah atau kedatuan. Dengan diberi gelar Tumenggung Adipati.
Sementara di bawah Umbul Batulayang, Kewedanaan Cililin meliputi tiga kecamatan yakni Cililin, Sindangkerta, dan Gununghalu. Kewedanan Cililin sendiri merupakan bagian dari wilayah Kabupaten Tingkat II Bandung bagian selatan tanahnya subur, membentang luas dari arah utara ke selatan dan dari timur ke barat.
Menurut ahli filsafat, daerah Kewedanan Cililin merupakan Tanah Bahe Ngaler yakni tanah yang sangat baik untuk dihuni manusia. Hal ini bisa dilihat dari aliran sungai yang bermuara hingga Sungai Citarum, diantaranya Sungai Cidadap, Sungai Cilanang, Sungai Cijambu, dan Sungai Ciminyak. Disertai anak sungainya seperti Sungai Ciawitali, Sungai Cimeta, Sungai Ciwidara, Sungai Cijenuk, Sungai Cijere, Sungai Cisareuni, Sungai Citus, Sungai Cilamaya, Sungai Cibitung. Sungai Cipatik, dan Sungai Cililin.
Baca Juga: PARAH..Jawa Barat Paling Korup di Indonesia, Catatkan Rekor 101 Kasus Korupsi
Dengan demikian, hal ini menunjukan bahwa daerah dataran rendah terletak di sebelah utara sedangkan dataran tinggi terletak di sebelah selatan.
Adapun batasnya adalah sebelah utara berbatasan dengan bekas Kewedanaan Cimahi, sebelah timur berbatasan dengan Kewedanaan Soreang, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Cianjur, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Soreang.
Sedangkan, pembagian wilayah kecamatannya semula hanya terdiri dari tiga kecamatan saja yaitu, Kecamatan Cililin, Kecamatan Sindangkerta, dan Kecamatan Gununghalu. Setelah dimekarkan menjadi empat kecamatan, satu kecamatan pemekaran dari Kecamatan Sindangkerta yaitu Kecamatan Cipongkor.
Dengan demikian, Kewedanan Cililin merupakan daerah yang terluas di wilayah Kabupaten Bandung, bahkan hampir sama dengan luas wilayah Kabupaten Purwakarta dan Kabupaten Subang.
Menurut peneliti ahli purbakala, hampir sepertiga daerah genangan atau Danau Gunung Purba. Hal itu juga menjadi faktor yang menjadikan wilayah Kewedanan Cililin menjadi daerah yang subur.
Jarak antara ibu kota Kabupaten Bandung ke ibu kota Kewedanan Cililin semula berjarak 29 kilometer. Kendati demikian, usai dipindahkan ke Baleendah jaraknya menjadi lebih pendek sekitar 22 kilometer. (agus satia negara)
Editor : inilahkoran


