Mengapa Jabar Terasa Panas?

Mengapa Jabar  Terasa Panas?
UDARA PANAS: Warga di sejumlah wilayah Jabar mengeluhkan kondisi udara yang terasa panas dan gerah dalam beberapa hari terakhir.

Oleh: Cesar Yudistira

INILAH, Bandung - Beberapa hari terakhir, udara di sejumlah wilayah Jawa Barat terasa lebih menyengat. Pagi yang biasanya masih menyisakan kesejukan justru terasa hangat, sementara siang membawa gerah yang membuat tubuh cepat berkeringat.

Keluhan soal udara panas itu ternyata bukan sekadar perasaan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung menjelaskan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh suhu udara yang cukup hangat dan kelembapan yang tinggi.

Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Bandung Edi Wibowo mengatakan, dalam beberapa hari terakhir  terjadi pertumbuhan awan konvektif secara lokal di sejumlah wilayah Jawa Barat.

"Sedikit penjelasan mengenai suhu udara akhir-akhir ini yaitu terdapat pertumbuhan awan konvektif secara lokal," kata Edi, Rabu (19/8). 

Di Bandung dan sekitarnya, suhu udara minimum dalam dua hari terakhir berada pada kisaran 21–22 derajat Celsius. Angka tersebut tergolong cukup hangat, terlebih ketika udara juga membawa kelembapan yang tinggi.

"Suhu udara minimum cukup hangat dua hari terakhir pada kisaran 21–22 derajat Celsius, kelembapan udara cukup lembap 55–80 persen, sehingga kondisi udara terasa panas-lembap," terangnya.

Kelembapan menjadi bagian penting dari rasa gerah yang dirasakan tubuh. Ketika kandungan uap air di udara tinggi, keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit. Tubuh pun kehilangan salah satu cara alaminya untuk mendinginkan diri.

Itulah sebabnya suhu yang terbaca pada termometer tidak selalu sama dengan panas yang dirasakan. Kombinasi suhu dan kelembapan dapat membuat heat index atau indeks panas terasa lebih tinggi.

Di sisi lain, pertumbuhan awan konvektif juga membawa kemungkinan cuaca yang berubah cepat. Awan yang tumbuh secara lokal dapat berkembang menjadi pemicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah tertentu.

Cuaca pun seperti menyimpan dua wajah. Udara terasa panas dan lembap, tetapi pada saat yang sama langit dapat berubah menjadi mendung dan membawa hujan.

Karena itu, masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh dengan cukup mengonsumsi air putih untuk mencegah dehidrasi. 

Warga juga perlu mewaspadai perubahan cuaca, terutama ketika awan konvektif mulai tumbuh dan berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. (gin)


Editor : Inilahkoran