Rekayasa Belum Terasa

JALUR baru belum sepenuhnya mengurai kepadatan. Hari pertama rekayasa lalu lintas Cimahi masih menyisakan sejumlah antrean.

Rekayasa Belum Terasa
ALARM DINI: Hari pertama penerapan rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas jalan Kota Cimahi langsung menjadi bahan evaluasi serius Dinas Perhubungan (Dishub). Hasil pemantauan di lapangan menunjukkan adanya titik-titik kepadatan kendaraan masih terlihat, terutama saat jam puncak aktivitas masyarakat pada pagi dan sore hari.

Oleh: Agus Satia Negara

Hari pertama rekayasa lalu lintas di sejumlah ruas Kota Cimahi belum membawa jawaban yang sepenuhnya tenang. Arus kendaraan memang diarahkan ke pola baru, tetapi pada jam-jam sibuk, antrean masih muncul di beberapa titik.

Pemandangan itu menjadi catatan awal bagi Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cimahi. Skema yang baru diterapkan harus terus dibaca dari kondisi jalan, sebab perubahan arah arus kendaraan tidak boleh sekadar membuat satu ruas lebih lengang dengan mengorbankan ruas lainnya.

Kepala Dishub Kota Cimahi Endang mengatakan, rekayasa lalu lintas harus diuji berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Evaluasi diperlukan untuk memastikan kebijakan tersebut benar-benar mampu mengurai kepadatan.

“Rekayasa lalu lintas tidak boleh sekadar mengubah arah arus kendaraan tanpa menyelesaikan akar masalah,” kata Endang, Rabu (19/8). 

Pagi ketika masyarakat berangkat bekerja dan beraktivitas, serta sore saat mereka kembali ke rumah, sejumlah ruas masih dipenuhi kendaraan. Penumpukan itu menjadi tanda bahwa pola baru belum sepenuhnya menemukan keseimbangannya.

Endang mengatakan, peningkatan volume kendaraan yang berlangsung cepat membuat pengaturan lalu lintas tidak bisa dilakukan secara kaku. Setiap perubahan arus harus direspons dengan penyesuaian yang tepat.

“Pada jam berangkat dan pulang kerja, sejumlah ruas masih terlihat penumpukan kendaraan yang mengindikasikan adanya hambatan aliran. Peningkatan volume kendaraan yang terjadi secara cepat menuntut respons yang luwes dan tidak kaku, sehingga penyesuaian di lapangan menjadi sangat krusial,” sebutnya.

Masa uji coba menjadi ruang bagi Dishub untuk membaca kembali karakter lalu lintas Cimahi. Bukan melalui hitungan di atas kertas semata, melainkan dari kendaraan yang bergerak, antrean yang memanjang, hingga ruas yang tiba-tiba kehilangan kelancaran.

Petugas ditempatkan untuk mengamati langsung pergerakan kendaraan. Koordinasi dengan kepolisian dan pemangku kepentingan lainnya juga dilakukan untuk menentukan bagian mana yang membutuhkan koreksi.

“Petugas terus memantau pergerakan kendaraan secara langsung, sekaligus berkoordinasi erat dengan pihak kepolisian dan pemangku kepentingan terkait untuk menentukan titik mana yang membutuhkan perbaikan,” katanya.

Koreksi itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk. Penempatan personel bisa digeser ke titik yang lebih membutuhkan. Rambu-rambu dapat diperjelas. Durasi lampu lalu lintas pun dapat disesuaikan dengan pola arus kendaraan yang berubah dari waktu ke waktu.

Sebab, jalan tidak pernah benar-benar diam. Pada satu jam kendaraan dapat bergerak lancar, sementara beberapa jam kemudian antrean muncul hanya karena perubahan volume kendaraan.

“Pola arus kendaraan pada masa uji coba harus dibaca secara dinamis. Setiap muncul antrean panjang, rekayasa harus segera dikoreksi,” katanya. (gin)


Editor : Inilahkoran