Mengatasi Bedtime Gap: Mengapa Anak Butuh Tidur Lebih Lama dari Dugaan Orang Tua?

Banyak orang tua belum menyadari bahwa kebutuhan tidur anak kerap melebihi durasi istirahat mereka sehari-hari. 

Mengatasi Bedtime Gap: Mengapa Anak Butuh Tidur Lebih Lama dari Dugaan Orang Tua?
ilustrasi tidur

INILAHKKORAN.ID - Banyak orang tua belum menyadari bahwa kebutuhan tidur anak kerap melebihi durasi istirahat mereka sehari-hari. 

Mengutip dari CNN, berdasarkan acuan National Sleep Foundation, bayi baru lahir membutuhkan empat belas hingga tujuh belas jam tidur, balita sebelas hingga empat belas jam, anak usia prasekolah sepuluh hingga tiga belas jam, dan anak usia sekolah sembilan hingga sebelas jam per hari. 

Namun, jajak pendapat terbaru National Sleep Foundation mengungkapkan fakta mengkhawatirkan bahwa empat puluh empat persen anak-anak tidak mendapatkan durasi tidur yang cukup, dengan kelompok usia paling muda menjadi yang paling sering kekurangan waktu istirahat.

Masalah ini berakar pada tiga hal utama, yaitu kesalahan memperkirakan kebutuhan tidur, tingkat stres orang tua, dan minimnya komunikasi. Sebanyak tujuh puluh delapan persen orang tua dari bayi usia nol hingga tiga bulan salah menilai durasi tidur yang dibutuhkan anak mereka. 

Di sisi lain, sekitar tujuh puluh empat persen pengasuh memikirkan masalah tidur anak hingga lebih dari dua jam setiap hari, bahkan enam puluh satu persen orang tua mengaku rela membayar demi memastikan anak mereka bisa tidur nyenyak. 

Masalah kian pelik karena hampir separuh orang tua jarang atau tidak pernah mengajak anak berdiskusi mengenai pentingnya tidur bagi kesehatan tubuh dan konsentrasi belajar.

Untuk membangun jam tidur sehat pada anak, orang tua dapat menerapkan beberapa langkah praktis. Pertama, jangan hindari tidur siang karena menghilangkan jadwal tidur siang dengan harapan anak tidur lebih lelap di malam hari adalah kekeliruan yang justru membuat anak rewel akibat kelelahan berlebih. 

Kedua, ciptakan rutin pengantar tidur (wind-down routine) seperti meredupkan lampu, mematikan perangkat elektronik, dan membacakan dongeng secara konsisten untuk membantu tubuh anak mengenali sinyal waktu istirahat. 

Ketiga, bangun diskusi sederhana menggunakan bahasa yang mudah dipahami anak, seperti menjelaskan bahwa tidur membantu tubuh tumbuh tinggi, memperkuat fisik, dan menjaga suasana hati tetap ceria. Akhirnya, jadilah teladan di rumah karena anak-anak meniru kebiasaan orang dewasa, sehingga saat orang tua memprioritaskan waktu tidur yang cukup, anak akan secara alami meniru pola hidup sehat tersebut.

Durasi tidur yang cukup pada usia dini menjadi fondasi utama bagi kesehatan fisik, perkembangan otak, serta stabilitas emosional anak hingga mereka dewasa. 


Editor : Doni Ramdhani