Mengolah Limbah Jadi Berkah
DARI minyak jelantah hingga tas belanja, barang yang tersisa mulai diberi kesempatan kedua. Gerakan ekonomi sirkular perlahan tumbuh di Kota Bogor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Rizki Mauludi
Sampah plastik dan minyak jelantah kerap berakhir di tempat yang sama: dibuang setelah dianggap tak lagi berguna. Namun di Kota Bogor, keduanya mulai dilihat dari sudut yang berbeda. Bukan sekadar limbah, melainkan sesuatu yang masih memiliki nilai dan bisa diberi kehidupan baru.
Langkah itu diperkuat Pemerintah Kota Bogor bersama Perkumpulan Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (Dietplastik Indonesia) dan PT Greentech Solusi Utama.
Ketiganya menandatangani kesepakatan untuk memperkuat pengurangan sampah plastik sekaligus mendorong pemanfaatan minyak jelantah agar memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.
Penandatanganan dilakukan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim bersama CEO PT Greentech Solusi Utama Al Falaq Arsendatama dan Ketua Dietplastik Indonesia Tirza Nafira di Paseban Suradipati, Balai Kota Bogor, Senin (7/9).
Bagi Dedie, persoalan sampah tidak berhenti pada bagaimana limbah dikumpulkan dan dibuang. Ada bagian lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana sesuatu yang sudah dianggap tak berguna dapat kembali masuk ke dalam siklus pemanfaatan.
Dedie menyambut baik kerja sama tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan persampahan di Kota Bogor. Terlebih, pemerintah kota juga telah berkomitmen membangun dua fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
"Selain itu Kota Bogor sudah berkomitmen membangun dua PSEL. Semoga benar-benar berdampak positif bagi perbaikan lingkungan di Indonesia, khususnya di Kota Bogor," terang Dedie.
Namun, menurut Dedie, keberhasilan pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan fasilitas pengolahan. Masyarakat harus memiliki ruang yang mudah untuk ikut ambil bagian.
Karena itu, ia menyarankan adanya kotak atau boks khusus yang dapat digunakan warga untuk menyetorkan minyak jelantah maupun sampah plastik. Cara sederhana itu diharapkan membuat masyarakat semakin mudah berpartisipasi.
"Ujungnya bukan hanya PSEL, tetapi minyak jelantah dan sampah plastik yang memiliki nilai ekonomis bisa diolah dan dimanfaatkan. Untuk plastik yang nilainya rendah tentunya ada treatment-nya, sehingga seluruh rangkaian proses menangani persampahan bisa selesai. Yang utama adalah peran serta masyarakat," paparnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Rudy Mashudi menilai kesepakatan tersebut menjadi pijakan untuk memperkuat sekaligus memasifkan gerakan pengurangan dan pengelolaan sampah di Kota Bogor.
Cerita tentang sampah yang memiliki kehidupan kedua juga tengah dibangun PT Greentech Solusi Utama. Selama setahun terakhir, edukasi dilakukan secara rutin ke sekolah-sekolah setiap pekan. Pelajar dikenalkan pada pola hidup sehat sekaligus cara melihat limbah dari sisi yang berbeda.
CEO PT Greentech Solusi Utama Al Falaq Arsendatama mengatakan edukasi tersebut penting karena masih ditemukan minyak jelantah yang dikumpulkan pengepul, kemudian dijernihkan kembali dan dijual kepada pedagang makanan.
Kondisi itu mendorong pihaknya memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada para siswa dan keluarganya.
"Yang kami lakukan selama ini memberikan pengetahuan kepada mereka sekaligus mendorong keluarga para siswa untuk memiliki semangat ekonomi sirkular yang menerangkan limbah punya kehidupan baru yang memiliki nilai komersial yang bisa berguna untuk pemilik awal," tuturnya. (gin)
Editor : Inilahkoran

