Menjaga Aman Sepiring Gizi

Menjaga Aman  Sepiring Gizi
AWASI MBG: Rombongan KSP dan Wali Kota Cimahi meninjau proses pengolahan MBG di SPPG Cimahi Tengah dan SMPN 15 Cimahi, Senin (7/9).

Oleh: Agus Satia Negara

INILAH, Cimahi - Sepiring makanan tiba di hadapan anak-anak SMP Negeri 15 Kota Cimahi. Ada olahan daging ayam, acar sayuran, dan buah anggur. Menu sederhana itu segera berpindah dari kotak makanan ke meja, lalu disantap dengan lahap. Hampir tak ada yang tersisa.

Di balik sepiring makan siang tersebut, ada rantai panjang yang harus dipastikan berjalan dengan baik. Mulai dari bahan baku, proses pengolahan, distribusi hingga makanan benar-benar dikonsumsi oleh anak-anak. Setiap tahap menjadi bagian penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga aman.

Hal itu menjadi perhatian Kantor Staf Presiden (KSP) saat melakukan pemantauan langsung ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Cimahi Tengah dan lokasi penerima manfaat di SMP Negeri 15 Kota Cimahi, Senin (7/9).

Perwakilan KSP Letjen (Purn) Arif Rahman mengatakan pemantauan dilakukan untuk melihat langsung seluruh mata rantai penyediaan makanan. Kebersihan dan sanitasi menjadi bagian yang tak bisa ditawar karena makanan tersebut dikonsumsi ribuan anak sekolah.

"Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan rantai penyediaan makanan berjalan dari pengolahan, distribusi hingga dikonsumsi dengan layak dan aman," kata Arif di lokasi.

Pemerintah Kota Cimahi mendapat apresiasi karena secara rutin melakukan inspeksi mendadak untuk memastikan makanan yang disajikan memenuhi standar. Namun, pemantauan di lapangan juga menemukan sejumlah hal yang masih perlu dibenahi.

Beberapa sarana di SPPG dinilai perlu ditingkatkan. Mulai dari pemasangan pendingin ruangan (AC) yang memadai di ruang kerja hingga penyediaan fasilitas air panas untuk mencuci peralatan dan bahan baku.

"Perbaikan ini pun langsung disikapi responsif oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dan manajemen SPPG setempat guna memenuhi standar operasional yang ditetapkan," ungkap Arif.

Di sisi penerima manfaat, respons anak-anak menjadi gambaran lain. Menu ayam disebut menjadi pilihan yang paling disukai. Makanan yang dibagikan hampir seluruhnya habis disantap.

"Berdasarkan konfirmasi langsung ke siswa, menu utama berupa ayam menjadi favorit mereka," sebutnya.

Pengawasan pun tidak berhenti setelah makanan selesai dimasak. Penanggung jawab di lokasi wajib memastikan makanan layak sebelum didistribusikan. Guru juga turut mencicipi makanan sebagai bagian dari pemeriksaan rasa dan kualitas.

Hingga pemantauan dilakukan, SPPG yang berada dalam pengawasan terkait belum mencatat adanya penolakan ataupun pengembalian makanan karena dinilai tidak layak konsumsi. (gin)


Editor : Inilahkoran