Menjaga Jarak, Merawat Muruah Pers

PULUHAN wartawan mengenakan kaus yang sama. Bukan sekadar seragam, melainkan penegasan jarak pers dengan kekuasaan.

Menjaga Jarak, Merawat Muruah Pers
JAGA MURUAH: Puluhan jurnalis Kabupaten Bogor mengenakan kaus bertuliskan ‘Bukan Wartawan Pendopo’. Aksi ini sebagai bentuk dukungan pemberantasan korupsi di kabupaten Bogor.

Kaus-kaus itu membawa pesan yang sama: Bukan Wartawan Pendopo. Tulisan itu dikenakan puluhan wartawan dari berbagai penjuru Kabupaten Bogor.

Dari timur, selatan, barat, utara hingga tengah, para jurnalis media cetak, daring, dan televisi berkumpul membawa satu keresahan: korupsi yang terus berulang di lingkungan pemerintahan daerah.

Bukan sekadar tulisan di dada. Bagi mereka, kaus itu menjadi bentuk kritik sosial sekaligus penanda sikap untuk mendukung pemberantasan korupsi di Kabupaten Bogor.

Para wartawan mengaku prihatin melihat kasus korupsi yang kembali muncul setiap kali terjadi pergantian kepala daerah.

Mereka menilai persoalan tersebut tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga berimbas pada masyarakat dan kerja-kerja jurnalistik.

“Kami merasa sangat prihatin. Setiap kali berganti kepala daerah, kasus korupsi selalu terjadi di Kabupaten Bogor,” kata Benny, salah seorang wartawan televisi nasional.

Menurut dia, wartawan juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap kondisi daerah. Karena itu, keresahan tersebut kemudian diwujudkan dalam sebuah gerakan bersama.

“Kami sebagai bagian dari warga Kabupaten Bogor merasa peduli dan tergerak agar semua bentuk perilaku koruptif, khususnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor, hilang,” ujarnya.

Bagi mereka, pemerintahan yang bersih bukan hanya soal administrasi dan penegakan hukum.

Ada kehidupan masyarakat yang ikut dipertaruhkan di dalamnya. Ada pula ruang kerja pers yang membutuhkan lingkungan yang sehat, bebas dari kepentingan dan tekanan.

Ketua Bogor Timur Jurnalis (BTJ) Dady menegaskan, aksi tersebut tidak berkaitan dengan kepentingan politik ataupun upaya menyerang individu tertentu.

“Ini murni gerakan keprihatinan dan kepedulian wartawan di Kabupaten Bogor. Tidak ada sponsor dan tidak untuk menyerang personal siapapun,” tegas Dady.

Pesannya sederhana: kepala daerah dan seluruh jajarannya harus bersih dari korupsi. Di sisi lain, Ketua Forum Wartawan Bogor Selatan Acep Mulyana mengingatkan kembali posisi pers dalam kehidupan demokrasi. Menurut dia, insan pers memiliki peran strategis sebagai salah satu pilar demokrasi.

Karena itu, aksi “Bukan Wartawan Pendopo” sekaligus menjadi pengingat bagi wartawan sendiri agar tidak kehilangan jarak dengan kekuasaan.

Melalui pesan yang mereka kenakan di tubuh, para wartawan ingin menegaskan bahwa pers bukan bagian dari lingkaran kekuasaan.

Wartawan berada di luar pendopo, bekerja untuk mencari dan menyampaikan fakta.

(reza zurifwan/gin)


Editor : Inilahkoran